HTML,BODY{cursor: url("http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/guitarmulti.gif"), auto;}
Tak peduli seburuk apapun masa lalumu, cintai dirimu. Hari ini kamu bisa memulai yg baru. Beri yg terbaik tuk masa depanmu.

Jumat, 04 Mei 2012

RESUME ABORTUS DAN MOLA HIDATIDOSA


RESUME
 TENTANG ABORTUS DAN MOLA HIDATIDOSA



DI SUSUN OLEH :
NAMA            : TINI PURWATI
KELAS                        : II B
NPM               : 011.02.0738

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN ( STIKES ) MATARAM
PRODI D-IV KEBIDANAN
TAHUN 2012
ABORTUS
1.      Pengertian
Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin dalam rahim.

            Dibawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus.
1.      EASTMEN : Abortus ialah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
2.      JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu.
3.      HOLMER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke-16, dinamakan proses plasentasi belum siap.
(Sinopsis Obstetri Jilid I, 2002)

2.      Jenis jenis abortus
-          Abortus spotan
Abortus yang terjadi dengan sendirinya (kegguran)
-          Abortus buatan atau abortus provocatus
Abortus yang disengaja atau digugurkan. Abortus provocatus terdiri dari 2 macam yaitu :
a.      Abortus provocatus artificialis adalah pengguguran kehamilan dengan alat – alat  dengan alas an kehamilan membahayakan bagi ibu, missal ibu berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan penyakit jantung, hipertensi esensialis
b.      Abortus provocatus criminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum

3.      Macam- macam abortus
a.      Abortus imminens
Ditandai dengan perdarahan pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu, ibu mungkin mengalami mulas atau tidak sama sekali. Pada abortus jenis ini, hasil konsepsi atau janin masih berada di dalam, dan tidak disertai pembukaan (dilatasi serviks)

Tanda dan gejala :
Jika seorang wanita yang hamil muda mengeluarkan darah sedikit per vaginam maka ia di duga menderita abortus imminens. Pendarahan yang sedikit pada hamil muda mungkin juga disebabkan oleh hal – hal lain dari abortus :
v  Placental sign ( gejala placenta ) ialah pendarahan dari pembuluh – pembuluh darah sekitar placenta.
v  Erosio portionis juga mudah berdarah pada kehamilan.
v  Polyp
Secara ikhtisar abortus imminens kita diagnosa kalau ada pada kehailan muda terdapat :
v  Pendarahan sedikit.
v  Nyeri memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali.
v  Pada pemeriksaan dalam belum ada pembukaan.
v  Tidak diketemukan kelainan pada cervix
Masih ada harapan kehamilan nya berlangsung terus.

Pengobatan :
Pasien di suruh :
Ø  Istirahat rebah.
Ø  Diberi sedativa, misalnya luminal, codein, morphin.
Ø  Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan untuk mengunrangi kerentanan otot – otot rahim ( misalanya gestanon ).

Istirahat rebah tidak usah melebihi 48 jam. Kalau telur masih baik, perdarahan dalam waktu ini akan berhenti. Kalau perdarahan tidak berhenti dalam 48 jam maka kemungkinan besar terjadi abortus dan istirahat rebah hanya menunda abortus tersebut. Jika perdarahan berhenti, pasien harus menjaga diri, jangan banyak bekerja dan coitus dilarang selama 2 minggu. Jika perdarahan disebabkan erosi, maka erosi diberi nitras argentii 5 – 10 %, kalau sebab nya polyp. Maka poylyp diputar dengan cunam sampai tangkainya terputus.
Selanjutnya kita perhatikan apakah janin masih hidup dengan menentukan apakah rahim terus membesar. Jika janin telah mati, maka rahim tidak membesar dan reaksi galli mainni menjadi negatif, tapi baik nya di lakukan sekurang – kurang nya 2 x berturut – turut. Baru kalau gailli mainni 2 x berturut – turut negatif ada artinya

b.      Abortus insipiens
Terjadi perdarahan pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan disertai mulas yang sering dan kuat. Pada abortus jenis ini terjadi pembukaan atau dilatasi serviks tetapi hasil konsepsi masih di dalam rahim.
Menurut buku obstetri patologi 1984 adalah keguguran berlansung

Tanda dan gejala :
v  Pendarahan banyak, kadang – kadang keluar gumpalan darah.
v  Nyeri karena kontraksi rahim kuat
v  Akibat kontraksi rahim terjadi pembukaan
v  Biasanya berakhir dengan abortus.
Pengobatan :

Karena boleh dikatakan pasti terjadi abortus maka pengobatan belainan dengan pengobatan abortus imminens. Untuk mempercepat pengosonggan rahim di beri oxytocin 2 ½ satuan tiap ½ jam sebanyak 6 kali. Untuk mengurangi nyeri karena his boleh diberi sedativa. Jika pitocin tidak berhasil, dapat dilakukan curettage asal pembukaan cukup besar.

c.       Abortus incomplit
Terjadi pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu, sementara sebagian masih berada di dalam rahim. Terjadi dilatasi serviks atau pembukaan, jaringan janin dapat diraba dalam rongga uterus atau sudah menonjol dari os uteri eksternum. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan, sehingga harus dikuret.
Menurut buku obstetri patologi 1984 adalah keguguran tidak lengkap

Tanda dan gejala :
Disertai infeksi kemudian :
v  Demam kadang – kadang menggigil
v  Lochia berbau busuk
v  Dapat menimbulkan endotoxin shock.

Pengobatan
Abortus incompletus harus segera di bersihkan dengan curettage atau secara digital. Selama masih ada sisa – sisa placenta akan terus terjadi perdarahan.
d.      Abortus complit
Pada abortus jenis ini, semua hasil konsepsi dikeluarkan sehingga rahim kosong. Biasanya terjadi pada awal kehamilan saat plasenta belum terbentuk. Perdarahan mungkin sedikit dan os uteri menutup dan rahim mengecil. Pada wanita yang mengalami abortus ini, umumnya tidak dilakukan tindakan apa-apa, kecuali jika datang ke rumah sakit masih mengalami perdarahan dan masih ada sisa jaringan yang tertinggal, harus dikeluarkan dengan cara dikuret

Tanda dan gejala :
Pada abortus completus perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarakan dan selambat – lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali, karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi setelah selesai. Cervix juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga, maka abortus incompletus atau endometritis post abortum harus dipikirkan.
           
                        Pengobatan :
Tidak memerlukan penanganan penanganan khusus, hanya apabila menderita anemia ringan perlu diberikan tablet besi dan dianjurkan supaya makan makanan yang mengandung banyak protein, vitamin dan mineral.

e.      Missed abortion
Keguguran tertunda, keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan didalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.

Tanda dan gejala :
Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absoprsi air ketuban dan mencerasi janin
v  Buah dada mengecil kembali.
v  Gejala – gejala lain yang penting tidak ada, hanya ammenorhoe berlansung terus.
Biasanya keadaan ini berakhir dengan abortus yang spontan selambat – lambat nya 6 minggu setelah janin mati. Kalau janin mati pada kehamilan yang masih muda sekali maka janin lebih cepat dikeluarkan, sebaliknya kalau kehamilan lebih lanjut retensi janin lebih lama. Sebagai batas maksimal retensi janin diambil 2 bulan, kalau dalam 2 bulan belum lahir disebut missed abotion. ( abortus tertunda ).

Pengobatan :
Dulu sikap kita menghadapi missed abortion konservatip mengingat :
Ø  Kesukaran teknik dalam melakukan dilatasi atau curetage dilatasi dan curetlage
Ø  Kemungkinan infeksi besar
Sekarang kecenderungan untuk menyelesaikan missed abortion lebih aktif karena adanya oxytocin dan antibiotika. Segera setelah kematian janin dapat dipastikan, diberi pitocin misalnya 10 satuan dalam 500 cc glucose. Kalau tidak terjadi abortus dengan pitocin infus ini, sekurang – kurang nya terjadi pembukaan yang memudahkan curettage. Dilatasi dapat juga dihasilkan dengan pemasangan laminaris stift

f.        Abortus habitualis
Keguguran berulang, abortus yang telah berulang dan berturut – turut terjadi sekurang – kurang nya 3 x berturut – turut.


g.      Abortus febrilis
Adalah abortus incomplementus atau abortus insipiens yang disertai dengan infeksi

Tanda dan gejala :
-          Demam kadang-kadang menggigil
-          Lochea berbau busuk

Pengobatan :
Abortus incompletus yang telah diseratai infeksi tidak segera di curent, kecuali kalau perdarahan banyak sekali. Jika abortus febrilis dicurent, pagar leucocyt yang menghalangi invasi kuman rusak dan pembuluh – pembuluh darah terbuka, hingga kuman dapat memasuki pembuluh darah tersebut dan terjadilah sepsis. Sedapat nya penderita di beri antibiotika dulu, baru curetage dikerjakan setelah suhu tenang selama 3 hari

4.      Etiologi
Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus adalah :
1.Kelainan ovum
Menurut HERTIG dkk, pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan. Menurut penyelidikan mereka, dari 1000 abortus spontan, maka 48,9% disebabkan karena ovum yang patologis ; 3,2% disebabkan oleh kelainan letak embriio, dan 9,6% disebabkan karena plasenta yang abnormal.
Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili. Abortus spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum, berkurang kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelaninan ovum (50-80%)
2.Kelainan genetalia ibu

Misalnya pada ibu yang menderita :
a.Anomali kogenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis dll)
b.Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fisaka
c.Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis, mioma submukosa.
d.Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
e.Distorsio uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis.

3.Gangguan sirkulasi plasenta

Kita jumpai pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomali plasenta, dan endarteritis oleh karena lues.

4.Penyakit-penyakit ibu

Misalnya pada :

a.Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti peneumonia, tifoid, pielitis, rubeola, demam malta dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan karena toksin dari ibu atau infasi kuman atau virus pada fetus.
b.Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol dan lain-lain
c.Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemia gravis.
d.Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan vit A, C atau E, diabeters melitus.
5.Antagonis Rhesus

Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.

6.Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrofis, atau faktor serviks, yaitu inkompetensi serviks, servisitis.

7.Perangsang pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi; umpamanya : sangat terkejut, obat-obat uterotonika, ketakutan, laparotomi, dan lain-lain. Atau dapat juga karena trauma langsung terhadap fetus; selaput janin rusak langsung karena instrumen, benda dan obat-obatan.

8.Penyakit Bapak : umur lanjut, penyakit kronis seperti : TBC, anemia, dekompensasi kordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, pada, dll) sinar rontgen, avitaminosis

5.      Patologi
Pada permulaan, terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena benda yang dianggap asing, maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal, karena itu akan banyak terjadi perdarahan
(Sinopsis Obstetri Jilid I, 2002).

Pemeriksaan Penunjang

Tes kehamilan : Positif (+) bila janin masih hidup, bahkan 2-3 mg, setelah abortus
Pemeriksaan Dooppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
Permeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.

6.      Penyebab abortus

Karakteristik ibu hamil dengan abortus yaitu:

1.      Umur
Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain. Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan remaja yang tidak dikehendaki. Keguguran sengaja yang dilakukan oleh tenaga nonprofessional dapat menimbulkan akibat samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan. Abortus yang terjadi pada remaja terjadi karena mereka belum matur dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Abortus dapat terjadi juga pada ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat memengaruhi janin intra uterine.

2.      Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.

3.      Paritas ibu
Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan.

4.      Riwayat Kehamilan yang lalu
Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya abortus lagi pada seorang wanita ialah 73% dan 83,6%. Sedangkan, Warton dan Fraser dan Llewellyn - Jones memberi prognosis yang lebih baik, yaitu 25,9% dan 39% (Wiknjosastro, 2007).

7.      Penyulit abortus
Kebanyakan penyulit abortus disebabkan abortus criminalis walaupun dapat timbul juga pada abortus spontan :
1)      Pendarahan yang hebat.
2)      Infeksi kadang – kadang sampai terjadi sepsis, infeksi dari tuba dapat menimbulkan kemandulan.
3)      Renal failure ( faal ginjal rusak ), disebabkan karena infeksi dan shock. Pada pasien dengan abortus diurese selalu harus diperhatikan. Pengobatan ialah dengan pembatasan cairan dan pengobatan infeksi.
4)      Shock bakterial, terjadi shock yang berat, rupa – rupa nya oleh toxin – toxin. Pengobatan nya ialah dengan pemberian antibiotika, cairan, corticosteroid dan heparin.
5)      Perforasi ini terjadi waktu curettage atau karena abortus criminalis.
















MOLA HIDATIDOSA

1.      Pengertian
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan.
(Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 238)

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339)

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik.
(Mansjoer, Arif, dkk, 2001 : 265)

Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. (Jack A. Pritchard, dkk, 1991 : 514)

Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik, hidropik, daripada villi choriales, sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo, Saleh, 1973 : 325).

Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104)
Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi :
a.Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin
b.Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.
2.      Etiologi
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah :
a.Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.
b.Imunoselektif dari tropoblast
c.Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
d.Paritas tinggi
e.Kekurangan protein
f.Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
(Mochtar, Rustam ,1998 : 238)
3.      Patofisiologi
Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan pathogenesis dari penyakit trofoblast :
Teori missed abortion. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
Teori neoplasma dari Park. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.
Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.
(Silvia, Wilson, 2000 : 467)
4.      Gambaran klinik
Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa adalah :
a.Amenore dan tanda-tanda kehamilan
b.Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
c.Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
d.Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.
e.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.
(Mansjoer, Arif, dkk, 2001 : 266)
5.      Tes diagnostic
a.Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin
b.Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison)
c.Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tilang-tulang janini (pada kehamilan 3 – 4 bulan
d.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janin
e.Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udara
f.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis
(Arif Mansjoer, dkk, 2001 : 266)

6.      Penata laksanaan medik
Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah :
a.Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis
b.Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan :
Evaluasi klinik dengan fokus pada :
Riwayat haid terakhir dan kehamilan
Perdarahan tidak teratur atau spotting
Pembesaran abnormal uterus
Pelunakan serviks dan korpus uteri
Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin
Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson
c.Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera
d.Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus)
e.Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.
Selain dari penanganan di atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa, yaitu :
Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat).
Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai
Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah prosedur evakuasi
Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi
Kadar hCG diatas 100.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif), berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu
Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi







DAFTAR PUSTAKA
1.Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
2.Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC, Jakarta
3.Soekojo, Saleh, 1973, Patologi, UI Patologi Anatomik, Jakarta
4.Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I. EGC. Jakarta
5.Johnson & Taylor, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. EGC. Jakarta
6.Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar