HTML,BODY{cursor: url("http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/guitarmulti.gif"), auto;}
Tak peduli seburuk apapun masa lalumu, cintai dirimu. Hari ini kamu bisa memulai yg baru. Beri yg terbaik tuk masa depanmu.

Senin, 24 Desember 2012

TETANUS


MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN NEONATAL
TETANUS NEONATORUM
PENYAKIT YANG DIDERITA IBU SELAMA KEHAMILAN



 










KELOMPOK IV
1.       SURAYA CAHYANTI
2.       TINI PURWATI
3.       SITI ANNISA ROHMAYANI
4.       SRY AGUSTINA NINGSIH
5.       USWATUNNISA
6.       YUYUN MINWAROH
7.       KHAIRUNNISA
8.       MUTMAINNAH
9.       MUTIARA GUSNARTI
10.   NASWATI





SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
PRODI D-IV KEBIDANAN
2012/2013

11.    
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.
                Melalui kesempatan ini Kami tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Baginda kita Nabi Besar Muhammad SAW. yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita menuju alam yang terang benderang yakni Ad-Dinul Islam. Dan kepada yang terhormat Hj. Nurhayati, S.S.T selaku dosen pembina mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatal.
                Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, karena itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif atau membangun dari pembaca sangat Kami harapkan demi kesempurnaan makalan ini.
                Akhirnya semoga makalah ini sangat berguna bagi kita terutama bagi Kami sendiri.

Mataram,    Desember 2012



                                                                                                                                         Kelompok IV




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang............................................................................................................. 1
B.      Rumusan Masalah............................................................................................ ........... 2
C.      Tujuan......................................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN KASUS
A.      Tetanus Neonaturum................................................................................................... 4
B.      Penyakit yang Diderita Ibu Selama Kehamilan............................................................... 10
BAB III. PENUTUP
A.      Kesimpulan.................................................................................................................. 29
B.      Saran........................................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
1.    Tetanus Neonatorum
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0-28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia . Namun, banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia.
Masalah pada neonatus ini biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, serta kurangnya perawatan bayi baru lahir.
Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Salah satu kasus yang banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah adalah kasus tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Tingginya angka kematian sangat bervariasi dan sangat tergantung pada saat pengobatan dimulai serta pada fasilitas dan tenaga perawatan yang ada.
Dengan tingginya kejadian kasus tetanus ini sangat diharapkan bagi seorang tenaga medis, dapat memberikan pertolongan/tindakan pertama atau pelayanan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kewenangan dalam menghadapi kasus tetanus neonatorum.

2.    Penyakit yang Diderita Ibu Selama Kehamilan
Kehamilan adalah suatu fenomena fisiologis yang dimulai dengan pembuahan dan diakhiri dengan proses persalinan (Mansjoer, 2001). Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan. Selama kehamilan normal, saluran cerna dan organ-organ penunjangnya mengalami perubahan, baik secara anatomis maupun fungsional, yang dapat mengubah secara bermakna kriteria untuk diagnosis dan terapi untuk beberapa penyakit.
Jika seorang wanita mengidap penyakit bawaan atau penyakit tertentu yang cukup serius, harus waspada dan berhati-hati dalam menghadapi kehamilan. Dengan perawatan dan pengobatan yang teratur, umumnya kehamilan dapat berjalan dengan lancar. Walaupun demikian, risiko munculnya sesuatu yang tidak diinginkan dapat saja terjadi. Beberapa penyakit perlu mendapat perhatian khusus jika diidap oleh wanita hamil.

B.    Rumusan Masalah
1.    Tetanus Neonatorum
a.    Apa pengertian dari tetanus neonatorium?
b.    Apa yang menjadi etiologi dari tetanus neonatorium?
c.     Apa patofisiologi dari tetanus neonatorium?
d.    Bagaimana tanda dan gejala tetanus neonatorium?
e.    Bagaimana melakukan pencegahan pada tetanus neonatorium?
f.     Bagaimana penatalaksanaan pada tetanus neonatorium?
g.    Bagaimana penatalaksanaan medis dan perawatan pada tetanus neonatorium?
h.    Apa komplikasi dari tetanus neonatorium?

2.    Penyakit yang Diderita Ibu Selama Kehamilan
a.    Apa pengaruh penyakit jantung pada wanita hamil?
b.    Apa pengaruh penyakit diabetes mellitus pada wanita hamil?
c.     Apa pengaruh penyakit system pernafasan wanita hamil?
d.    Apa pengaruh penyakit pencernaan pada wanita hamil?
e.    Apa pengaruh hematologi pada wanita hamil?
f.     Apa pengaruh penyakit perkemihan pada wanita hamil?

C.    Tujuan
1.    Tetanus Neonatorum
a.    Untuk mengetahui pengertian tetanus neonatorium
b.    Untuk mengetahui etiologi tetanus neonatorium
c.     Untuk mengetahui patofisiologi tetanus neonatorium
d.    Untuk mengetahui tanda dan gejala tetanus neonatorium
e.    Untuk mengetahui pencegahan pada tetanus neonatorium
f.     Untuk mengetahui penatalaksanaan pada tetanus neonatorium
g.    Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan medis dan perawatan pada tetanus neonatorium
h.    Untuk mengetahui komplikasi dari tetanus neonatorium

2.    Penyakit yang Diderita Ibu Selama Kehamilan
a.    Untuk mengetahui pengaruh penyakit jantung pada wanita hamil
b.    Untuk mengetahui pengaruh penyakit diabetes mellitus pada wanita hamil
c.     Untuk mengetahui pengaruh penyakit system pernafasan wanita hamil
d.    Untuk mengetahui pengaruh penyakit pencernaan pada wanita hamil
e.    Untuk mengetahui pengaruh hematologi pada wanita hamil
f.     Untuk mengetahui pengaruh penyakit perkemihan pada wanita hamil



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

TETANUS NEONATURUM
A.   Pengertian
Tetanus neonatorum adalah merupakan penyakit pada bayi baru lahir yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia tatapi disebabkan oleh infeksi masuknya kuman tetanus melalui luka tali pusat.
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan (Asri Rosad, 1987).
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clastridium Tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun yang menyerang sistem saraf pusat) (Abdul Bari Saifuddin, 2000).

B.    Etiologi
1.    Kuman Clostridium Tetani
Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani Kuman ini bersifat anaerobik dan mengeluarkan eksotoksin yang neorotropoik.. Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk spora. Spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan. Tetanus tidak menularkan dari orang ke orang. Tetanus hanya dapat terjadi jika bakteri berubah bentuk menjadi bentuk vegetatif dalam tubuh manusia. Sebenarnya bakteri ini menghasilkan 3 toksin namun tetanospasmin merupakan penyebab timbulnya tetanus.
2.    Pemotongan tali pusat bayi menggunakan alat yang tidak bersih atau steril.
3.    Luka tali pusat kotor atau tdak bersih.
4.    Ibu hamil tidak mendapat imunisasi TT (Tetanus Toksoid) lengkap.

C.    Patofisiologi
Virus yang masuk dan berada dalam lingkungan anaerobit beruba menjadi bentuk fegetatif dan berbiak sambil menghasilkan toksin dalam jaringan yang anaerobit ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oksigen jaringan akibat adanya pus, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat diionisasi. Secara intra aksonal toksin disalurkan ke sel syaraf yang memakan waktu sesuai dengan panjang aksonnya dan aktifitas serabutnya. Belum terdapat perubahan elektrik dan fungsi sel syaraf walaupun toksin telah terkumpul dalam sel. Dalam sum-sum tulang belakang toksin menjalar dari sel syaraf lower motorneuron keluksinafs dari spinal inhibitorineurin. Pada daerah inilah toksin menimbulkan gangguan pada inhibitoritransmiter dan menimbulkan kekakuan.

D.   Tanda dan Gejala
Masa inkubasi penyakit adalah 5-14 hari sehingga .Gejala dan tanda tersebut biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling umum terjadi adalah kekakuan pada rahang sehingga penderita tidak dapat membuka mulut, dan menelan  serta bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, dan bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Bisa juga dengan melihat gejala klinis atau yang lebih jelas lagi, seperti :
1.    Mulut mencucu seperti mulut ikan (karpemound)
2.    Bayi tiba-tiba panas.
3.    Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang pada otot faring (tenggorok dan rahang).
4.    Mudah sekali kejang disertai sianosis (biru), kejang terutama apabila terkena cahaya, suara dan sentuhan.
5.    Kejang, otot kaku/spasm dengan kesadaran tak terganggu. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang pada otot-otot perut, leher, dan punggung dapat menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang, sedangkan badannya melengkung ke depan(kaku duduk sampai opisthotonus) . Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah akan menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.
6.    Dinding perut tegang (perut papan)
7.    Trismus (kesukaran membuka mulut/mulut tertutup).
8.    Kesukaran menelan

E.    Pencegahan
Pemberian toxoid tetanus kepada ibu hamil 3 x berturut-turut pada trimester ke-3 dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.

F.    Penatalaksanaan
a.    Pemberian saluran nafas agar tidak tersumbat dan harus dalam keadaan bersih.
b.    Pakaian bayi dikendurkan/dibuka
c.     Mengatasi kejang dengan cara memasukkan tongspatel atau sendok yang sudah dibungkus kedalam mulut bayi agar tidak tergigit giginya dan untuk mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang menutupi saluran pernafasan.
d.    Ruangan dan lingkungan harus tenang
e.    Bila tidak dalam keadaan kejang berikan ASI sedikit demi sedikit, ASI dengan menggunakan pipet/diberikan personde (kalau bayi tidak mau menyusui).
f.     Perawatan tali pusat dengan teknik aseptic dan antiseptic.
g.    Selanjutnya rujuk kerumah sakit, beri pengertian pada keluarga bahwa anaknya harus dirujuk ke RS.

G.   Medik dan Perawatan
1.    Di berikan cairan melalui intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis 4-1 selama 48-72 jam.
2.    Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit.
3.    Obat ATS 10.000 untuk perhari diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM untuk neonatus bisa di berikan IV apa bila tersedia dapat di berikan human tetanus immununoglobulin (HTIG) 3000-6000IU.im.
4.    Ampisilin 100mg/kg/BB dibagi 4 dosis selama 10 hari.
5.    Tali pusat dibersihkan atau dikompres dengan alkohol 70% betadine 10%.
6.    Rawat diruang yang tenang tetapi harus terang juga hangat.
7.    Baringkan pasien dengan sikap kepala ekstensi dengan memberikan gajanl dibawah bahunya.
8.    Beri O2 1-2 liter/menit.
9.    Memberikan suntikan anti kejang, obat yang dipakai ialah kombinasi fenobarbital dan largaktil. Fenobarbital dapat diberikan mula-mula 30-60 mg parenteral, kemudian dilanjutkan dengan dosis maksimum 10 mg per hari. Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain ialah Kloralhidrat yang diberikan lewat anus.
10. Pada saat kejang pasang sudit lidah.
11. Observasi tanda vital secara continue setiap ½ jam.

H.   Kebutuhan Nutrisi dan Cairan
Akibat keadaan bayi yang payah dan tidak dapat menyusui untuk memenuhi kebutuhannya. Perlu di beri infus dengan cairan glukosa 5%, bila kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan sejalan dengan perbaikan, pemberian makanan bayi dapat diubah memakai sendok secara bertahap. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002).

I.      Komplikasi
1.    Bronkhopneumonia : infeksi yang terjadi pada bronkus dan jaringan paru.
2.    Asfiksia :  keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur.
3.    Sepsis Neonatorum : infeksi bakteri berat yang menyebar keseluruh tubuh bayi baru lahir.

J.     Asuhan Keperawatan
A.   Pengkajian
1.    Identitas
2.    Riwayat Keperawatan : antenatal, intranatal, postnatal.
3.    Pemeriksaan Fisik :
a.    Keadaan Umum : Lemah, sulit menelan, kejang
b.    Kepala : Poisi menengadah, kaku kuduk, dahi mengkerut, mata agak tertutup, sudut mulut keluar dan kebawah.
c.     Mulut : Kekakuan mulut, mengatupnya rahang, seperti mulut ikan.
d.    Dada : Simetris, kekakuan otot penyangga rongga dada, otot punggung.
e.    Abdomen : Dinding perut seperti papan.
f.     Kulit : Turgor kurang, pucat, kebiruan.
g.    Ekstremitas : Flexi pada tangan, ekstensi pada tungkai, hipertoni sehingga bayi dapat diangkat bagai sepotong kayu.
4.    Pemeriksaan Persistem
a.    Respirasi : Frekuensi nafas, penggunaan otot aksesori, bunyi nafas, batuk-pikel.
b.    Kardiovaskuler : Frekuensi, kualitas dan irama denyut jantung, pengisian kapiler, sirkulasi, berkeringat, hiperpirexia.
c.     Neurologi : Tingkat kesadaran, reflek pupil, kejang karena rangsangan.
d.    Gastrointestinal : Bising usus, pola defekasi, distensi
e.    Perkemihan : Produksi urine
f.     Muskuloskeletal : Tonus otot, pergerakan, kekakuan.

B.    Diagnosa Keperawatan
1.    Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. peningkatan kebutuhan kalori yang tinggi, makan tidak adekuat.
2.    Ketidak efektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring).
3.    Koping keluarga tidak efektif b.d. kurang pengetahuan keluarga tentang diagnosis/prognosis penyakit anak.

C.    Intervensi
1.    Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Peningkatan kebutuhan kalori yang tinggi, makan tidak adekuat.
o  Tujuan : nutrisi dan cairan dapat dipertahankan sesuai dengan berat badan dan pertumbuhan normal.
o  Kriteria hasil :
Tidak terjadi dehidrasi
Tidak terjadi penurunan BB
Hasil lab. tidak menunjukkan penurunan albumin dan Hb
Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi
o  Intervensi :
a.    Catat intake dan output secara akurat.
b.    Berikan makan minum personde tepat waktu.
c.     Berikan perawatan kebersihan mulut.
d.    Gunakan aliran oksigen untuk menurunkan distress nafas.
e.    Berikan formula yang mengandung kalori tinggi dan protein tinggi dan
sesuaikan dengan kebutuhan.
f.     Ajarkan dan awasi penggunaan makanan sehari-hari.
g.    Tegakkan diet yang ditentukan dalam bekerja sama dengan ahli gizi.
2.    Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring)
o  Tujuan : kelancaran lalu lintas udara (pernafasan) terpenuhi secara maksimal.
o  Kriteria hasil :
Tidak terjadi aspirasi
Bunyi napas terdengar bersih
Rongga mulut bebas dari sumbatan
o  Intervensi :
a.    Berikan O2 nebulizer
b.    Ajarkan pasien tehnik batuk yang benar.
c.     Ajarkan pasien atau orang terdekat untuk mengatur frekuensi batuk.
d.    Ajarkan pada orang terdekat untuk menjaga kebersihan mulut.
e.    Berikan perawatan kebersihan mulut.
f.     Lakukan penghisapan bila pasien tidak dapat batuk secara efektif dengan melihat waktu.
3.    Koping keluarga tidak efektif b.d. kurang pengetahuan keluarga tentang diagnosis/prognosis penyakit anak
o  Tujuan : Keluarga dapat menahami tentang penyakit anak
o  Kriteria hasil :
o  Intervensi :
a.    Kaji pengetahuan tentang proses tindakan terhadap penyakit
b.    Berikan penjelasan kepada orang tua bahwa bayinya menderita sakit berat atau bahaya maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus.
c.     Berikan penjelasan kepada orang tua, bila ibunya hamil lagi agar minta suntikan pencegahan tetanus.



PENYAKIT YANG DIDERITA IBU SELAMA KEHAMILAN
A.   Hipertensi Dalam Kehamilan
1.    Hipertensi Esensial
Adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya dan ini termasuk juga hipertensi ringan.
Gejalanya :
-       Biasanya tidak terasa ada keluhan dan pusing atau berat ditekuk kepala.
-       Tekanan darah sistolenya antara 140-160 mmhg
-       Tekanan darah diastolenya antara 90-100 mmhg
-       Tekanan darahnya sukar diturunkan

Penanganannya :
Memantau tekanan darah apabila diketahui tinggi dan mengurangi segala sesuatu yang bisa menyebabkan tekanan darah naik seperti : gaya hidup, diet dan psikologis.

2.    Hipertensi Karena Kehamilan
Adalah hipertensi yang disebabkan atau muncul selama kahamilan
o  Terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20 minggu, selama persalinan dan 48 jam pasca persalinan.
o  Lebih sering pada primigravida
o  Risiko meningkat pada :
-       Masa plasenta besar (gamelli, penyakit trofoblas)
-       Diabetes mellitus
-       Faktor herediter
-       Masalah vaskuker
o  Ditemukan tanpa protein dan oedema, tekanan darah meningkat
o  Kenaikan tekanan diastolik 15 mmhg atau > 90 mmhg dalam pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan diastolik sampai 110 mmhg.

Penanganan :
o  Pantau tekanan darah, proteinuria, reflek dan kondisi janin
o  Jika tekanan darah meningkat tangani sebagai preeklampsia
o  Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat dan pertimbangan terminasi kehamilan.
3.    Preeklampsia
Adalah bila ditemukannya hipertensi yang ditambah dengan proteinuria dan oedema.
Proteinuria adalah tanda yang penting pada preeklampsia, tidak adanya tanda ini akan membuat diagnosa preeklampsia dipertanyakan. Proteinuria jika kadarnya lebih dari 300 mg dalam urine 24 jam atau lebih dari 100 mg dalam urin 6 jam.
Ibu hamil mana pun dapat mengalami preeklampsia. Tapi, umumnya ada beberapa ibu hamil yang lebih berisiko, yaitu :
o  Ibu hamil untuk pertama kali
o  Ibu dengan kehamilan bayi kembar
o  Ibu yang menderita diabetes
o  Memiliki hipertensi sebelum hamil
o  Ibu yang memiliki masalah dengan ginjal
o  Hamil pertama di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun.
o  Ibu yang pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya akan ada kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya.

Sayangnya penyebab preeklampsia sampai saat ini masih merupakan misteri. Tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju. Yang jelas, preeklampsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, di samping infeksi dan perdarahan.

Gejala Yang Muncul :
o  Kondisi preeklampsia sangat kompleks dan sangat besar pengaruhnya pada ibu maupun janin. Gejalanya dapat dikenali melalui pemeriksaan kehamilan yang rutin. Kendati tak jarang si ibu merasa dirinya sehat-sehat saja.
o  Adanya preeklampsia bisa diketahui dengan pasti, setelah pada pemeriksaan didapatkan hipertensi, bengkak, dan protein dalam urin.
o  Preeklampsia biasanya muncul pada trimester ketiga kehamilan. Tapi bisa juga muncul pada trimester kedua. Bentuk nonkompulsif dari gangguan ini terjadi pada sekitar 7 % kehamilan. Gangguan ini bisa terjadi sangat ringan atau parah.

Aspek Klinik Dari Preeklampsia :
o  Gambaran klinik
Dua gejala yang sangat penting preeklampsia adalah hipertensi dan proteinuria
o  Tekanan darah
Kelainan dasar pada preeklampsia adalah vasospasme arteriol, peningkatan tekanan darah adalah tanda peringatan awal dari preeklampsia. Tekanan diastolik lebih bermakna dari pada tekanan sistolik, tekanan diastolik sebesar 90 mmhg atau lebih yang menetap menunjukkan keadaan abnormal.
o  Kenaikan Berat Badan
Peningkatan berat badan yang tiba-tiba dapat mendahului serangan preeklampsia, peningkatan BB lebih dari 1 kg perminggu atau 3kg perbulan kemungkinan terjadinya preeklampsia.
o  Proteinuria
Merupakan indikator penting untuk menentukan beratnya preeklampsia
o  Nyeri kepala
Sering didaerah frontal dan kadang-kadang oksipital yang tidak sembuh dengan analgetik biasa
o  Nyeri epigastrium
Sering merupakan gejala preeklampsia berat
o  Gangguan penglihatan
Disebabkan vasospasme, iskemia dan perdarahan petekie pada korteks oksipital atau spasme arteriol.

Perbedaan preeklampsia ringan dan preeklampsia berat
1.    Preeklampsia ringan
·      Kenaikan tekanan diastolik 15 mmhg atau > 90 mmhg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan diastolik sampai 110 mmhg
·      Proteinuria (+)
2.    Preeklampsia berat
·      Tekanan diastolik > 110 mmhg
·      Proteinuria (++)
·      Oliguria
·      Hiperrefleksia
·      Gangguan penglihatan
·      Nyeri epigastrium

Penanganan Preeklampsia Ringan
Jika kehamilan < 37 minggu dan tidak ada tanda-tanda perbaikan lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
·      Pantau tekanan darah, proteinuria, refleks, dan kondisi janin.
·      Lebih banyak istirahat
·      Diet biasa
·      Tidak perlu diberi obat-obatan
·      Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah sakit :
-       Diet biasa
-       Pantau tekanan darah 2x sehari, proteiuria 1x sehari
-       Tidak perlu obat-obatan
-       Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat oedema paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut
-       Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan
-       Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia
-       Kontrol 2 kali seminggu
-       Jika tekanan diastolik naik lagi rawat kembali
-       Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetap dirawat
-       Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat pertimbangan  terminasi kembali
-       Jika protein meningkat tangani sebagai preeklampsia berat
Jika kehamilan > 37 minggu, pertimbangkan terminasi

Penanganan Preeklampsia Berat
1.    Penanganan aktif
Adalah kehamilan diakhiri atau diterminasi bersamaan dengan pemberian obat kejang (sama dengan pengobatan kejang pada eklampsia). Penderita harus segera dirawat dan sebaiknya dirawat diruangan khusus di daerah kamar bersalin, tidak diperlukan ruangan yang gelap tetapi rungan dengan penerangan yang cukup.
Penderita yang ditangani dengan aktif bila didapatkan satu atau lebih keadaan yaitu :
-       Ibu dengan kehamilan 35 minggu atau lebih
-       Adanya tanda-tanda impending eklampsia
-       Adanya syndrome HELLP (haemolysis elevated liver enzymes and low platelet) atau kegagalan penanganan konservatif
-       Adanya gawat janin atau IUGR

2.    Penanganan konservatif
Adalah kehamilan tetap dipertahankan bersamaan dengan pemberian pengobatan kejang (sama dengan penanganan kejang pada eklampsia). 
Pada kehamilan < 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik dilakukan penanganan secara konservatif.

4.    Eklampsia
Eklampsia didiagnosa jika kejang yang timbul dari hipertensi yang diinduksi dengan kehamilan atau hipertensi yang diperberat dengan kehamilan.

Tanda dan Gejala :
Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala dibagian frontal, gangguan penglihatan, mual, nyeri epigastrium dan hiperrefleksia.
Penyebab kematian ibu : Perdarahan otak, dekompensasi kordis dan edema paru

Penanganan Eklampsia
Tujuan : Menghentikan dan mencegah kejang, mencegah dan mengatasi timbulnya penyulit khususnya krisis hipertensi sebagai penunjang untuk stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin.
Sikap obstetrik : Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu.

Penanganan kejang :
·      Beri obat antikonvulsan
·      Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker oksigen, oksigen).
·      Lindungi pasien dari kemungkinan trauma.
·      Aspirasi mulut dan tenggorokan.
·      Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi trendelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi.
·      Beri O2 4-6 liter/ menit

Akibat Hipertensi dalam Kehamilan Pada Janin :
o  Janin yang dikandung ibu hamil pengidap preeklampsia akan hidup dalam rahim dengan nutrisi dan oksigen di bawah normal. Keadaan ini bisa terjadi karena pembuluh darah yang menyalurkan darah ke plasenta menyempit.
o  Karena buruknya nutrisi, pertumbuhan janin akan terhambat sehingga terjadi bayi dengan berat lahir yang rendah. Bisa juga janin dilahirkan kurang bulan (prematur), biru saat dilahirkan (asfiksia), dan sebagainya.
o  Pada kasus preeklampsia yang berat, janin harus segera dilahirkan jika sudah menunjukkan kegawatan. Ini biasanya dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu tanpa melihat apakah janin sudah dapat hidup di luar rahim atau tidak. Tapi, adakalanya keduanya tak bisa ditolong lagi.
Dokter tak akan membiarkan penyakit ini berkembang makin parah. Bila perlu, tanpa melihat usia kehamilan, persalinan dapat dianjurkan atau kehamilan dapat diakhiri. Tergantung keadaan, persalinan dilakukan dengan induksi atau bedah caesar.

B.    Anemia Dalam Kehamilan
a.    Pengertian
Anemia ialah suatu keadaan yang menggambarkan kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit dalam darah kurang dari nilai standar (normal).
Ukuran haemoglobin normal :
-       Laki-laki sehat mempunyai Hb: 14 gram – 18 gram
-       Wanita sehat mempunyai Hb: 12 gram – 16 gram

Tingkat pada anemia :
-       Kadar Hb 8 gram – 10 gram disebut anemia ringan
-       Kadar Hb 5 gram – 8 gram disebut anemia sedang
-       Kadar Hb kurang dari 5 gram disebut anemia berat

Pada kehamilan jumlah darah bertambah banyak, yang disebut hidremia dan hipervolemia pertambahan dari sel-sel darah kurang, bila dibanding dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut :
Plasma 30 %, sel darah 18% dan haemoglobin 19%.
Proses bertambahnya jumlah darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32-36 minggu.
Seorang wanita hamil yang memiliki Hb < 11gr% dapat disebut penderia anemia dalam kehamilan. Pemeriksaan hemoglobin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama pada triwulan pertama dan sekali lagi pada triwulan akhir.

b.    Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan, Persalinan dan Nifas
1.    Keguguran
2.    Partus prematurus
3.    Partus lama karena inersia uteri
4.    Perdarahan post Jartum karena atonia uteri
5.    Syok
6.    Infeksi, baik intrapartum maupun postpartum
7.    Anemia yang sangat berat adalah Hb dibawah 4 gr% terjadi payah jantung, yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal.

c.     Pengaruh Anemia Terhadap Hasil Konsepsi
Hasil konsepsi (janin, placenta, darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah untuk pembuatan butir-butir darah merah besar dan pertumbuhannya, yaitu sebanyak berat besi. Jumlah ini merupakan 1/10 dari seluruh besi dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan zat besi dalam hati, limpa, dan sum-sum tulang.  Selama masih mempunyai cukup persediaan zat besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan turun. Ini terjadi pada bulan ke 5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap konsepsi ádalah :
1.    Kematian mudigah (Keguguran)
2.    IUFD
3.    Prematuritas
4.    Kematian janin waktu lahir (stillbirth)
5.    Dapat terjadi cacat-bawaan

d.    Klasifikasi Anemia Dalam Kehamilan
1.    Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai adalah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurangnya masukan unsur besi dalam makanan karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya karena perdarahan. Kebutuhan zat besi bertambah dalam kehamilan, terutama dalam trimester terakhir. Apabila masuknya zat besi tidak ditambah, maka akan mudah terjadi anemia defisiensi besi, lebih-lebih pada kehamilan kembar

Pencegahan :
Di daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya wanita hamil diberi sulfasferosus cukup 1 tablet sehari. Selain itu wanita dinasehatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayur yang banyak mengandung mineral dan vitamin

2.    Anemia megaloblastik (29,0%)
Biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Terjadi akibat kekurangan asam folat, jarang sekali akibat karena kekurangan Vitamin B12. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.

Penanganan :
-       Pemberian asam folat, biasanya bersamaan dengan pemberian Sulfas ferosus
-       Diet makanan yang bergizi (tinggi kalori dan protein)
Ditemukan pada wanita yang tidak mengkonsumsi sayuran segar atau kandungan protein tinggi.

3.    Anemia hipoplastik (8,0%)
Disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi sternal, pemeriksaan retikulosit, dan lain-lain.
Terapi dengan obat-obatan tidak memuaskan, mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah, yang perlu sering diulang.

4.    Anemia hemolitik (sel sickle) (0,7%)
Disebabkan penghancuran / pemecahan sel darah merah yang langsung  cepat dari pembuatannya. Misalnya disebabkan karena malaria, racun ular.
Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil. Apabila ia hamil maka anemianya biasanya menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. Pengobatan bergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya, bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obatan penambah darah. Namun, pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini memberi hasil. Maka darah berulang dapat membantu penderita ini.

C.    Penyakit Jantung
Kehamilan dan penyakit jantung akan saling mempengaruhi pada individu yang bersangkutan. Kehamilan akan memberatkan penyakit jantung. Sebaliknya, penyakit jantung akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembanganjanin dalam kandungan, lain halnya pada kehamilan dengan jantung yang normal. Tubuh dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan sistem jantung dan pembuluh darah. Jika seorang wanita hamil mengidap penyakit jantung akan terjadi perubahan-perubahan berikut:
1.    Meningkatnya volume jantung, yang dimulai sejak kehamilan 8 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32 minggu, lain menetap. Kondisi ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan tubuh ibu dan janin yang dikandungnya.
2.    Jantung dan diafragma (sekat rongga dada) terdorong ke atas karena pembesaran rahim.

Dengan demikian. cukup jelas bahwa kehamilan dapat memperberat penyakit jantung. Kemungkinan timbulnya payah jantung (dekompensasi cordis) pun dapat terjadi. Keluhan-keluhan yang sering muncul adalah :
-       Cepat merasa lelah
-       Jantung berdebar-debar
-       Sesak napas, kadang-kadang disertai kebiruan di sekitar mulut (sionosis)
-       Bengkak pada tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda.

Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan :
1.    Kelas I
o  Tanpa pembatasan kegiatan fisik
o  Tanpa gejala penyakit jantung pada kegiatan biasa
2.    Kelas II
o  Sedikit pembatasan kegiatan fisik
o  Saat istirahat tidak ada keluhan
o  Pada kegiatan fisik biasa timbul gejala isufisiensi jantung seperti: kelelahan, jantung berdebar (palpitasi cordis), sesak nafas atau angina pectoris
3.    Kelas III
o  Banyak pembatasan dalam kegiatan fisik
o  Saat istirahat tidak ada keluhan
o  Pada aktifitas fisik ringan sudah menimbulkan gejala-gejala insufisiensi jantung
4.    Kelas IV
o  Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun

Komplikasi :
Komplikasi pada ibu dapat terjadi : gagal jantung kongestif, edema paru, kematian, abortus.
Komplikasi pada janin dapat terjadi : prematuritas, BBLR, hipoksia, gawat janin, APGAR score rendah, pertumbuhan janin terhambat.

Penatalaksanaan :
Sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Secara garis besar penatalksanaan mencakup mengurangi beban kerja jantung dengan tirah baring, menurunkan preload dengan deuretik, meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis, dan menurunkan after load dengan vasodilator.

Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya yaitu :
o  Kelas I :
Tidak memerlukan pengobatan tambahan

o  Kelas II :
Umumnya tidak memerlukan pengobatan tambahan, hanya harus menghindari aktifitas yang berlebihan, terutama pada UK 28-32 minggu. Pasien dirawat bila keadaan memburuk.
Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam, namun harus diawasi dengan ketat. Pasien harus tidur malam cukup 8-10 jam, istirahat baring minimal setengah jam setelah makan, membatasi masuknya cairan (75 mll/jam) diet tinggi protein, rendah garam dan membatasi kegiatan. Lakukan ANC dua minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. Rawat pasien di RS sejak 1 minggun sebelum waktu kelahiran.
o  Kelas III :
Dirawat di RS selam hamil terutama pada UK 28 minggu dapat diberikan diuretic
o  Kelas IV :
Harus dirawat di RS. Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena resiko terlalu berat. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan kurang dari 12 minggu. Jika kehamilan dipertahankan pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. Bila terjadi gagal jantung mutlak harus dirawat dan berbaring terus sampai anak lahir. Dengan tirah baring, digitalis, dan diuretic biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang.

D.   Penyakit Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.
Diagnosis :
Deteksi dini sangat diperlukan agar penderita DM dapat dikelola sebaik-baiknya. Terutama dilakukan pada ibu dengan factor resiko berupa beberapa kali keguguran, riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab, riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan, melahirkan bayi lebih dari 4000 gr, riwayat PE dan polyhidramnion.
Juga terdapat riwayat ibu : umur ibu > 30 tahun, riwayat DM dalam keluarga, riwayat DM pada kehamilan sebelumnya, obesitas, riwayat BBL > 4500 gr dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil.

Klasifikasi :
o  Tidak tergantung insulin (TTI), Non Insulin Dependent diabetes mellitus (NIDDN) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah.
o  Tergantung insulin (TI), Insulin dependent Diabetes Melitus yaitu kasus yan memerlukan insulin dalam mengembalikan kadar gula darah.

Komplikasi :
-       Komplikasi maternal : infeksi saluran kemih, hydramnion, hipertensi kronik, PE, kematian ibu.
-       Komplikasi fetal : abortus spontan, kelainan congenital, insufisiensi plasenta, makrosomia, kematian intra uterin.
-       Komplikasi Neonatal : prematuritas, kematian intra uterin, kematian neonatal, trauma lahir, hipoglikemia, hipomegnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, syndroma gawat nafas, polisitemia.

Penatalaksanaan :
Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl, 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl, dan kadar HbA1c<6%. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan.  Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI, kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2,5 kg dan selanjutnya 0,5 kg /minggu, total kenaikan BB sekitar 10-12 kg.
Penatalaksanaan Obstetric :
Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU, mendengarkan DJJ, dan secara khusus memakai USG dan KTG. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.
Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik, namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin.

E.    Penyakit Sistem Pernafasan
Pada umumnya penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan, persalinan dan nifas, walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada system pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru keatas serta sisa-sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu meenjadi lebih parah. Ada 3 jenis penyakit paru-paru yang perlu perhatian dalam kehamilan yaitu TBC, asma bronchial,  pneumonia, bronchitis dan influenza.
1.    Tuberkulosis Paru-Paru
-       Diagnosa :
Dalam anamneses Ibu mengatakan pernah berobat penyakit paru-paru
-       Keluhan dan gejala-gejala :
Batuk menahun, batuk darah, dan kurus kering.
-       Pemeriksaan fisis-diagnostik :
Pada paru-paru dijumpai adanya kelainan bunyi pernapasan.
-       Penanganan :
o  Ibu hamil dengan proses aktif, hendaknya jangan dicampurkan dengan wanita hamil lainnya.
o  Pengobatan harus selalu bekerja sama dengan ahli paru-paru
o  TBC paru-paru tidak merupakan indikasi abortus buatan dan terminasi kehamilan



2.    Asma
Penyakit asma dan kehamilan kadang-kadang bertambah berat. Dalam batas yang wajar asma tidak banyak pengaruhnya terhadap persalinan. Penyakit asma yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim melalui gangguan pertukaran O2 dan CO2.

3.    Penyakit Pneumonia
Penyakit radang paru-paru pneumonia dapat terjadi dalam kehamilan , persalinan atau nifas. Pneumonia saat kehamilan memberikan gejala panas badan tinggi, gangguan pernapasan mengganggu pertukaran o2 dan co2 sehingga membahayakan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sampai terjadi keguguran dan persalinan premature.

4.    Bronchitis dan Influenza
Bronchitis dan influenza pada kehamilan dijumpai ringan sehingga tidak membahayakan jiwa ibu maupun janin. Dengan pengobatan biasa sebagian besar sembuh sehingga kehamilan dapat berlangsungdengan baik.

F.    Penyakit Sistem Pencernaan
1.    Mulut
o  Hipersalivasi
Pada saat meludah, air liur keluar lebih banyak dari biasa, sering disertai mual dan muntah. Setelah trimester I, biasa akan hilang dengan sendirinya. Tidak membahayakan kehamilan.
o  Glugivitis dan epulis
Gusi lunak, membengkak, dan hiperemis. Karena gusi itu mudah berdarah terutama sewaktu menggosok gigi.
o  Karies gigi
Gigi yang rusak pada waktu hamil akan memburuk karena nafsu makan berkurang, mual, dan muntah sehingga kalsium menjadi berkurang.




2.    Esofagus dan Lambung
o  Pirosus
Wanita mengeluh sakit dan pedih diulu hati atau nyeri dada. Hal ini disebabkan regurgitasi isi lambung yang asam ke bagian bawah esofagus. Keluhan ini akan menghilang secara berangsur-angsur dengan kehamilan yang bertambah tua.
o  Esofagitis erosive
Wanita hamil dengan sering mual muntah sehingga terjadi erosi pada lambung. Gejalanya pedih dan nyeri sewaktu menelan, pirosis dan kadang-kadang dengan hematomesis.
o  Varises esophagus
Varises esofagus dijumpai pada sirosis hepatitis dan pada kehamilan menjadilebih berat bahkan bisa pecah dan terjadi pendarahan karena hipervolemia dan hipertensi portal.
o  Gastritis
Keluhan kehamilan muda sering disangka gastritis karena memang gejalanya hampir sama yaitu nyeri ulu hati, mual, muntah, anoreksia, dan menjadi kurus.
o  Apendisitis
Walaupun apendisitis akut dapat terjadi dalam kehamilan dan gejalanya membinggungkan dengan gejala abdomen akut obstetric.
o  Hemoroid (wasir)
Pemekaran pembuluh darah direktum tersebut haemoroid. Wasir yang sudah ada dapat menjadi lebih besar karena kehamilan, pada waktu depekasi terasa nyeri dan luka serta mengeluarkan darah.

G.   Penyakit Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadi proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Infeksi saluran kemih adalah bila pada pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. Urin yang diperiksa harus bersih, segar dan dari aliran tengah atau diambil denagn fungsi suprasimpisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml disebut dengan istilah bakteriuria.

Macam-macam infeksi saluran kemih :
1.    Bakteri Uria  Tanpa Gejala (Asimptomatik)
Frekuensi bakteriuria tanpa gejala kira-kira 2-10 %, dan dipengaruhi oleh paritas, ras, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeclampsia. Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yang dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian sulfonamide, ampisilin, atau nitrofurantoin.

2.    Bakteriuria Dengan Gejala (Simptomatik)
o  Sistitis
Sistitis adalah peradangan kandung kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. SIstitis ini sering dijumpai dalam kehamilan dan nifas, penyebab utama adalah E. coli,dapat pula oleh kuman-kuman yang lain.
o  Faktor predisposisi
Uretra wanita yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, disamping penggunaan kateter yang sering dipakai dalam usaha mengeluarkan air kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau persalinan.
o  Gejala-gejala
-       Kencing sakit terutama pada akhir berkemih
-       Meningkatnya frekuensi berkemih dan kadang-kadang disertai nyeri di bagian atas simfisis
-       Perasaan ingin berkemih yang tidak dapat ditahan
-       Air kemih kadang-kadang tersa panas
-       Suhu badan mungkin normal atu meningkat
-       Nyeri di daerah suprasimfisis
o  Pengobatan : Dapat diobati dengan sulfonamide, ampisilin, eritromisin.

3.    Pielonefritis Akuta
Pielonefritis akuta merupakan salah satu komplikasi yang sering dijumpai dalam kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan terakhir dan permulaan masa nifas.Penyebab utam adalah E.coli, dan dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti stafilokokkus aureus, baasillis proteus, dan pseudomonas aeruginosa.
o  Gejala-gejala
-       Penyakit biasa timbul mendadak
-       Wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung kemih
-       Tiba-tiba menggigil
-       Badan panas
-       Rasa nyeri dipunggung terutama sebealh kanan
-       Nafsu makan berkurang, mual, muntah-muntah, dan kadang-kadang diare
o  Pengobatan
Penderita harus dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibiotika seperti ampisilin atau sulfonamide, sampai tes kepekaan kuman ada, kamudian antibiotika disesuaikan dengan hasiltes kepekaan tersebut.

4.    Glomerulonefritis Akuta
Glomerulonefritis akuta jarang dijumpai pada wanita hamil. Penyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan, dan pnderita nefritis dapat menjadi hamil.biasanya disebakan oleh streptococcus beta -haemolyticus jenis A.glomerulonefritis akuta mmpunyai pngaruh tidak baik terhadap hasil konsepsi,terutama yang d sertai tkanan darah yang sangat tinggi dan insufisiensi ginjal ,dapat menyebabkan abortus.partus prematururus dan kematian janin.

Pengobatan :
-       Istirahat baring sama dengan diluar kehamilan
-       Diet yang sempurna dan rendah garam
-       Pengendalian hepertensi srta kesimbangan cairan dan elktrolit

5.    Glomeruloneferitis Kronika
Ialah pnyakit yang sudah di derita oleh ibu hamil beberapa tahun sebelumnya karena itu pada pemeriksaan khamilan pertama dapat dijumpai proteinuria,sedimen yang tidak normal dan hepertensi.

Gejala-gejala :
-       Terdapat proteinuria
-       Kelainan sedimen dan hipertensi
-       Edema di muka
-       Anemia

6.    Sindroma Nefrotik
Sindroma nefrotik dahulu di kenal dengan nama nefrosis ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas udem ,proteinuria (> dari 5 gram sehari),hipoalbuminemia dan hiperkolestrolmia.penyakit-penyakit yang dapat menyertai sindroma nefrotik ialah glomerulo-nefritis kronika (paling sering),lupus eritematosus, diabetes militus, amiloidosis, sifilis dan thrombosis vena renalis.

7.    Gagal Ginjal Mendadak
Gagal ginjal mendadak dalam kehamilan adalah komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas,karena dapat menimbulkan kematian,atau kerusakan fungsi ginjal yang tidak bisa sembuh lagi.pnderita yang mengalami gagal ginjal mendadak ini sring di jumpai pada kehamilan muda 12-18 minggu,dan kehamilan yang telah cukup bulan.
o  Gejala-gejala
-       Sepsis
-       adanya tanda-tanda oliguri mendadak dan asothemia
-       pembekuan darah intra paskuler
o  Pengobatan
-       Penderita di beri infus atau trnfusi darah
-       Di perhatikan kesembangan elektrolit dan cairan
-       Lakukan hemodialisis bila ada tanda-tanda.

8.    Ginjal Polikistik
Polikistik merupakan kelainan bawaan (herditer).kehamilan umumnya tidak mmpengaruhi perkembangan pembentukan Ginjal kista pada ginjal,begitu pula sebaliknya.akan tetapi bila fungsi ginjal kurang baik ,maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya .sebaliknya wanita yang telah mempunyai klainan sebaiknya tidak hamil karena kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan yang sangat tinggi.

9.    Tuberklosis Ginjal
Jarang di jumpai wanita hamil dengan tubrklosis ginjal ,walaupun dalam literatur di sebutkan ada.kehamilan akan mmpengaruhi TBC ginjal trsebut bila tidak di obati.TBC pada ginjal dapat hamil terus ,asal fungsi ginjalnya baik. Terapi TBC ginjal sama dengan trapi TBC organ-organ lain. Untuk mmbuat diagnose TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus.

10.   Kehamilan Pasca Nefrektomi
Pada pendrita yang mempunyai satu ginjal karna kelainan congenital atau pasca nefrktomi, dapat atau boleh hamil sampai aterm asal fungsi ginjalnya normal. Perlu pemeriksaan fungsi ginjal sebelum hamil dan selama kehamilan serta diawasi dengan baik, karena kemungkinan timbulnya infeksi saluran kemih. Persalinan dapat berlangsung pervaginam kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.

11.   Kehamilan Pasca Transplantasi Ginjal
Sampai akhir ini masih terdapat laporan tentang kehamilan sampai cukup bulan, setelah wanita yang mengalami transplantasi ginjal. Proknosisnya cukup baik, bila ginjal yang diimplantasikan tersebut berasal dari donor yang hidup. Namun bila ginjal yang ditransplantasikan tersbut berasal dari ginjal donor yang telah meninggal (kadaver), maka kemungkinan akan terjadi kerusakan atau fungsi ginjal akan memburuk setelah 1 tahun, sehingga pada wanita tersebut harus dilakukan dialisis terus menerus untuk mempertahankan kehidupannya.Wanita yang menginginkan hamil setelah dapat transplantasi ginjal, haruslah diawasi ketat oleh Spesialis Obstetri dan Spesialis Penyakit Ginjal.
Adapun kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang wanita yang telah mendapat transplantasi ginjal, untuk diperbolehkan hamil antara lain sbb:
1.    Kesehatan penderita dalam keadaan baik dalam waktu 1-2 tahun setelah mendapat transplantasi ginjal.
2.    Tidak ada kontra indikasi obstetri untuk hamil
3.    Tidak ada proteinuria
4.    Tidak ada tanda-tanda penolakan graft
5.    Fungsi ginjal harus baik ,dngan hasil pmeriksaan laboratorium didapat kadar kreattinin darah antara0,8-2 mg/ml
6.    Tidak ada tanda-tanda bendungan,yabg di buktikan dengan pemeriksaan urogram
7.    Tidak ada tanda-tanda hipertensi
8.    Mendapat terapi


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
o  Tetanus neonatorum adalah:merupakan penyakit pada bayi baru lahir yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia tatapi disebabkan oleh infeksi masuknya kuman tetanus melalui luka tali pusat.
o  Penyebab penyakit tetanus neonarorium yaitu :
1.    Kuman Clostridium Tetani
2.    Pemotongan tali pusat bayi menggunakan alat yang tidak bersih atau steril.
3.    Luka tali pusat kotor atau tdak bersih.
4.    Ibu hamil tidak mendapat imunisasi TT(Tetanus Toksoid) lengkap.
o  Adapun gejala yang timbul pada penyakit tetanus neonatorium yakni:
1.    Mulut mencucu seperti mulut ikan
2.    Bayi tiba-tiba panas.
3.    Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang pada otot faring
4.    Mudah sekali kejang disertai sianosis (biru),
5.    Kejang, otot kaku/spasm dengan kesadaran tak terganggu.
6.    Dinding perut tegang (perut papan)
7.    Trismus (kesukaran membuka mulut/mulut tertutup).
8.    Kesukaran menelan
o  Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1.    Imunisasi aktif
2.    Perawatan tali pusat yang baik
3.    Pemberian toksoid tetanus pada ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trimester ke 3
4.    Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril
o  Penyakit yang Diderita Ibu Selama Kehamilan :
1.    Hipertensi dalam kehamilan
2.    Anemia dalam kehamilan
3.    Penyakit jantung
4.    Penyakit diabetes mellitus
5.    Penyakit sistem pernafasan
6.    Penyakit sistem pencernaan
7.    Penyakit sistem perkemihan
B.    Saran
Demi kepentingan bersama dan kesempurnaan makalah ini, kritik, saran dan masukan yang bermanfaat dari teman-teman sangat kami butuhkan.


DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Azis Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Salemba Medika : Jakarta.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Wiknyosastro, Gulardi Hanifa. 2002. Pelayanan Kesehatan Material Dan Neonatal. Yayasan.
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
Rukiah, Ai Yeyeh S.Si.T, “ Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan)”, Jakarta: Trans Info Media, 2010.
Prawirohardjo, Sarwono, “Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal “, Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar