HTML,BODY{cursor: url("http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/guitarmulti.gif"), auto;}
Tak peduli seburuk apapun masa lalumu, cintai dirimu. Hari ini kamu bisa memulai yg baru. Beri yg terbaik tuk masa depanmu.

Senin, 24 Desember 2012

MAL PRAKTEK

KASUS MAL PRAKTIK
“Remaja aborsi tewas usai disuntik bidan “



DISUSUN OLEH
NAMA            : TINI PURWATI
NPM               : 011.02.0738


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES ) MATARAM
PRODI D-IV KEBIDANAN
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Sebagai calon bidan yang ahli dan professional dalam melayani klien, sudah menjadi suatu kewajiban kita untuk mengetahui lebih dahulu apa saja wewenang yang boleh kita lakukan dan wewenang yang seharusnya ditangani oleh seorang dokter SpOG sehingga kita harus meninjau agar tindakan kita tidak menyalahi. PERMENKES yang berlaku. Akhir-akhir ini sering kita menemukan dalam pemberitaan media massa adanya peningkatan dugaan kasus malpraktek dan kelalaian medik di Indonesia, terutama yang berkenaan dengan kesalahan diagnosis bidan yang berdampak buruk terhadap pasiennya. Media massa marak memberitahukan tentang kasus gugatan/ tuntutan hukum (perdata dan/ atau pidana) kepada bidan, dokter dan tenaga medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit yang diajukan masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi korban dari tindakan malpraktik (malpractice) atau kelalaian medis. Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus-kasus itu terkategori malpraktik medik ataukah sekedar kelalaian (human error) dari sang bidan/dokter. Perlu diketahui dengan sangat, sejauh ini di negara kita belum ada ketentuan hukum tentang standar profesi kebidanan yang bisa mengatur kesalahan profesi.
Melihat fenomena di atas, maka kami melalui makalah ini akan membahas tentang salah satu kasus malpraktik di Indonesia.
B.      PERMASALAHAN
Bagaimana sudut pandang hukum dan etika terhadap tindakan aborsi?
C.      TUJUAN PENULISAN
a.       Menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan terutama yang berkaitan dengan malpraktek aborsi.
b.      Memahami permasalahan yang berkaitan dengan malpraktek aborsi serta upaya- upaya untuk mencegahnya.
c.       Memahami tuntutan hukum terhadap malpraktek aborsi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Aborsi (LBH APIK Jakarta, 2010)
Menurut Fact About Abortion, Info Kit on Women’s Health oleh Institute for Social, Studies and Action, Maret 1991, dalam istilah kesehatan aborsi didefinisikan sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah dibuahi dalam rahim (uterus), sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu. Di Indonesia, belum ada batasan resmi mengenai aborsi. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Prof. Dr. JS. Badudu dan Prof. Sutan Mohammad Zain, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996) abortus didefinisikan sebagai terjadi keguguran janin; melakukan abortus sebagai melakukan pengguguran (dengan sengaja karena tak menginginkan bakal bayi yang dikandung itu). Secara umum istilah aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan, yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu secara sengaja maupun tidak. Sementara dalam pasal 15 (1) UU Kesehatan Nomor 23/1992 disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Sedangkan pada ayat 2 tidak disebutkan bentuk dari tindakan medis tertentu itu, hanya disebutkan syarat untuk melakukan tindakan medis tertentu.Dengan demikian pengertian aborsi yang didefinisikan sebagai tindakan tertentu untuk menyelamatkan ibu dan atau bayinya (pasal 15 UU Kesehatan).
B. Penyebab Aborsi (Akhmadi, 2009)
Adapun penyebab melakukan tindakan aborsi tanpa rekomendasi medis adalah:
a.  Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah. Perlu dipikirkan oleh pihak sekolah bagaimana supaya tetap dipertahankan sekolah meski sedang hamil kalau terlanjur.
b.  Belum siap menghadapi orang tua atau memalukan orang tua dan keluarga. Hal ini juga perlu legawa orang tua karena psikologis anak sangat besar.
c.  Malu pada lingkungan sosial dan sekitarnya.
d.  Belum siap baik mental maupun ekonomi untuk menikah dan mempunyai anak.
e.  Adanya aturan dari kantor bahwa tidak boleh hamil atau menikah sebelum waktu tertentu karena terikat kontrak.
f.   Tidak senang pasangannya karena korban perkosaan.  
Adapun  penyebab lain dari kejadian aborsi ini antara lain adalah :
a.  Faktor ekonomi, di mana dari pihak pasangan suami isteri yang sudah tidak mau menambah anak lagi karena kesulitan biaya hidup, namun tidak memasang kontrasepsi, atau dapat juga karena kontrasepsi yang gagal.
b.  Faktor penyakit herediter, di mana ternyata pada ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan kehamilan mendapatkan kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya cacat secara fisik.
c.  Faktor psikologis, di mana pada para perempuan korban pemerkosaan yang hamil harus menanggung akibatnya. Dapat juga menimpa para perempuan korban hasil hubungan saudara sedarah (incest), atau anak-anak perempuan oleh ayah kandung, ayah tiri ataupun anggota keluarga dalam lingkup rumah tangganya.
d.  Faktor usia, di mana para pasangan muda-mudi yang masih muda yang masih belum dewasa & matang secara psikologis karena pihak perempuannya terlanjur hamil, harus membangun suatu keluarga yang prematur.
e.  Faktor penyakit ibu, di mana dalam perjalanan kehamilan ternyata berkembang menjadi pencetus, seperti penyakit pre-eklampsia atau eklampsia yang mengancam nyawa ibu.
f.   Faktor lainnya, seperti para pekerja seks komersial, ‘perempuan simpanan’, pasangan yang belum menikah dengan kehidupan seks bebas atau pasangan yang salah satu/keduanya sudah bersuami/beristri (perselingkuhan) yang terlanjur hamil.



C. Cara aborsi yang sering dilakukan (Akhmadi, 2009):
a.    Manipulasi fisik, yaitu dengan cara melakukan pijatan pada rahim agar janin terlepas dari rahim. Biasanya akan terasa sakit sekali karena pijatan yang dilakukan dipaksakan dan berbahaya bagi oragan dalam tubuh.
b.    Menggunakan berbagai ramuan dengan tujuan panas pada rahim. Ramuan tersebut seperti nanas muda yang dicampur dengan merica atau obat-obatan keras lainnya.
c.    Menggunakan alat bantu tradisional yang tidak steril yang dapat mengakibatkan infeksi. Tindakan ini juga membahayakan organ dalam tubuh.
D. Dampak Aborsi (Akhmadi, 2009)
a.  Pendarahan sampai menimbulkan shock dan gangguan neurologis/syaraf di kemudian hari, akibat lanjut perdarahan adalah kematian.
b.  Infeksi alat reproduksi yang dilakukan secara tidak steril. Akibat dari tindakan ini adalah kemungkinan remaja mengalami kemandulan di kemudian hari setelah menikah.
c.   Risiko terjadinya ruptur uterus (robek rahim) besar dan penipisan dinding rahim akibat kuretasi. Akibatnya dapat juga kemandulan karena rahim yang robek harus diangkat seluruhnya.
d.  Terjadinya fistula genital traumatis, yaitu timbulnya suatu saluran yang secara normal tidak ada yaitu saluran antara genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan.
E.  Pengertian Malpraktek
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu berkonotasi yuridis. Secara harfiah “mal” mempunyai arti “salah” sedangkan “praktek” mempunyai arti “pelaksanaan” atau “tindakan”, sehingga malpraktek berarti “pelaksanaan atau tindakan yang salah”. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi. Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah “kelalaian dari seseorang dokter atau bidan untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama” (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956). Berlakunya norma etika dan norma hukum dalam profesi kesehatan. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku norma etika dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice
F.  Jenis-Jenis Malpraktek
Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil malpractice dan Administrative malpractice.
1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakalaperbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
a. Perbuatan tersebut  merupakan perbuatan tercela.
b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah yang berupa kesengajaan, kecerobohan atau kealpaan.
• Criminal malpractice yang bersifat sengaja misalnya melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP).
• Criminal malpractice yang bersifat ceroboh misalnya melakukan tindakan medis tanpapersetujuan pasien informed consent.
• Criminal malpractice yang bersifat lalai misalnya kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien.Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkankepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.
2. Civil malpractice
a. Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji).Tindakan tenaga kesehatan yang dapat dikategorikan civil malpracticeantara lain:a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
b.
Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat melakukannya.
c.
  Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.
d.
Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dengan prinsip ini maka rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (tenaga kesehatan) selama tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya.
3. Administrative malpractice
Tenaga bidan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala tenaga bidan tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga bidan untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga bidan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.





BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN
A.    Tinjauan Kasus
Kasus : Remaja Aborsi Tewas Usai Disuntik Bidan
Minggu,18 Mei 2008 20:00 WIB
KEDIRI - Kasus aborsi yang berujung kematian terjadi Kediri. Novila Sutiana (21), warga Dusun Gegeran, Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Jawa Timur, tewas setelah berusaha menggugurkan janin yang dikandungnya. Ironisnya, korban tewas setelah disuntik obat perangsang oleh bidan puskesmas.
Peristiwa naas ini bermula ketika Novila diketahui mengandung seorang bayi hasil hubungannya dengan Santoso (38), warga Desa Tempurejo, Kecamatan Wates, Kediri. Sayangnya, janin yang dikandung tersebut bukan buah perkawinan yang sah, namun hasil hubungan gelap yang dilakukan Novila dan Santoso.
Santoso sendiri sebenarnya sudah menikah dengan Sarti. Namun karena sang istri bekerja menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong, Santoso kerap tinggal sendirian di rumahnya. Karena itulah ketika bertemu dengan Novila yang masih kerabat bibinya di Ponorogo, Santoso merasa menemukan pengganti istrinya. Ironisnya, hubungan tersebut berlanjut menjadi perselingkuhan hingga membuat Novila hamil 3 bulan.
Panik melihat kekasihnya hamil, Santoso memutuskan untuk menggugurkan janin tersebut atas persetujuan Novila. Selanjutnya, keduanya mendatangi Endang Purwatiningsih (40), yang sehari-hari berprofesi sebagai bidan di Desa Tunge, Kecamatan Wates, Kediri. Keputusan itu diambil setelah Santoso mendengar informasi jika bidan Endang kerap menerima jasa pengguguran kandungan dengan cara suntik.
Pada mulanya Endang sempat menolak permintaan Santoso dan Novila dengan alasan keamanan. Namun akhirnya dia menyanggupi permintaan itu dengan imbalan Rp2.100.000. Kedua pasangan mesum tersebut menyetujui harga yang ditawarkan Endang setelah turun menjadi Rp2.000.000. Hari itu juga, bidan Endang yang diketahui bertugas di salah satu puskesmas di Kediri melakukan aborsi.
Metode yang dipergunakan Endang cukup sederhana. Ia menyuntikkan obat penahan rasa nyeri Oxytocin Duradril 1,5 cc yang dicampur dengan Cynaco Balamin, sejenis vitamin B12 ke tubuh Novila. Menurut pengakuan Endang, pasien yang disuntik obat tersebut akan mengalami kontraksi dan mengeluarkan sendiri janin yang dikandungnya.
"Ia (bidan Endang) mengatakan jika efek kontraksi akan muncul 6 jam setelah disuntik. Hal itu sudah pernah dia lakukan kepada pasien lainnya," terang Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Didit Prihantoro di kantornya, Minggu (18/5/2008).
Celakanya, hanya berselang dua jam kemudian, Novila terlihat mengalami kontraksi hebat. Bahkan ketika sedang dibonceng dengan sepeda motor oleh Santoso menuju rumahnya, Novila terjatuh dan pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit. Apalagi organ intimnya terus mengelurkan darah.
Warga yang melihat peristiwa itu langsung melarikannya ke Puskemas Puncu. Namun karena kondisi korban yang kritis, dia dirujuk ke RSUD Pare Kediri. Sayangnya, petugas medis di ruang gawat darurat tak sanggup menyelamatkan Novila hingga meninggal dunia pada hari Sabtu pukul 23.00 WIB.
Petugas yang mendengar peristiwa itu langsung menginterogasi Santoso di rumah sakit. Setelah mengantongi alamat bidan yang melakukan aborsi, petugas membekuk Endang di rumahnya tanpa perlawanan. Di tempat praktik sekaligus rumah tinggalnya, petugas menemukan sisa-sisa obat yang disuntikkan kepada korban. Saat ini Endang berikut Santoso diamankan di Mapolres Kediri karena dianggap menyebabkan kematian Novila.
Lamin (50), ayah Novila yang ditemui di RSUD Pare Kediri mengaku kaget dengan kehamilan yang dialami anaknya. Sebab selama ini Novila belum memiliki suami ataupun pacar. Karena itu ia meminta kepada polisi untuk mengusut tuntas peristiwa itu dan menghukum pelaku.
Akibat perbuatan tersebut, Endang diancam dengan pasal 348 KUHP tentang pembunuhan. Hukuman itu masih diperberat lagi mengingat profesinya sebagai tenaga medis atau bidan. Selain itu, polisi juga menjeratnya dengan UU Kesehatan nomor 23 tahun 1992. Belum diketahui secara pasti sudah berapa lama Endang membuka praktik aborsi tersebut. (Hari Tri Wasono, 2008)

B.    Pembahasan Hukum
Aborsi menurut pandangan hukum di Indonesia :
1)   Menurut KUHP dinyatakan bahwa ibu yang melakukan aborsi, dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi, dan orang yang mendukung terlaksananya aborsi akan mendapat hukuman.
Pasal 229
1.  Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat puluh ribu rupiah.
2.  Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3.  Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pekerjaannya maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pekerjaan itu.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347
1.  Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2.  Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348
1.  Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seseorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
2.  Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.
Pasal 535
Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, ataupun secara terang-terangn atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan:
1.     Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun.
2.     Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu hamil itu mati diancam 15 tahun
3.     Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu hamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.
4.     Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk praktek dapat dicabut.
2)    Selain KUHP, abortus buatan yang ilegal juga diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan :
Pasal 15
1.  Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
2.  Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan :
a.  berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
b.  oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli;
c.   dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya;
d.  pada sarana kesehatan tertentu.
Pasal 80
Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
3)    Pembaharuan Undang - Undang Kesehatan yaitu UU No.36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, dijelaskan pula tentang aborsi.
Pasal 75
1.     Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
2.     Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a.     indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b.     kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan;
c.      Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
d.     Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a.    Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b.    oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c.    dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d.    dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e.    penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 194
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah
C.    ETIKA DAN ABORTUS
Perusahaan riset Internasional Synovate atas nama DKT Indonesia melakukan penelitian terhadap perilaku seksual remaja berusia 14-24 tahun yang  dilakukan terhadap 450 remaja dari Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Terungkap bahwa 64% remaja mengakui secara sadar melakukan hubungan seks pranikah dan telah melanggar nilai-nilai dan norma agama. Tetapi, kesadaran itu ternyata tidak mempengaruhi perbuatan dan prilaku seksual mereka. Alasan para remaja melakukan hubungan seksual tersebut adalah karena semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan. 
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga mentransformasi dari teman yang lainnya.  Pada zaman modren sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fashion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran. 
Bebera faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja yaitu faktor agama dan iman; faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media; pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan; dan perubahan zaman.           


D.   PEMBAHASAN KASUS
Aborsi yang dilegalkan diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 15, sedangkan Pembaharuan Undang - Undang Kesehatan yaitu UU No.36 tahun 2009  tentang Kesehatan, dijelaskan pula pada Pasal 75 ayat 2 dan pasal 76.
Pada kasus di atas dijelaskan  bahwa terjadi suatu aborsi tetapi jenis aborsi illegal. Kasus diatas berawal dari pasangan yang melakukan hubungan gelap (perselingkuhan) yang mengakibatkan sang wanita hamil, Pria dan wanita sepakat untuk menggugurkan kandungan yang berumur 3 bulan itu ke bidan. Bidan menyanggupi untuk melakukan aborsi tersebut dengan imbalan Rp 2.000.000,00.
Semua ahli madya kesehatan wajib mengucap sumpah janji ketika lulus dari pendidikan. Salah satu isi sumpah janji tersebut yaitu untuk melaksanakan tugas sabaik-baiknya menurut undang-undang yang berlaku.  Tetapi pada kasus ini bidan E melanggar sumpah tersebut. Bidan dengan sengaja dan adanya niat memberikan suntikan oxytocin duradril 1,5 cc yang dicampur dengan cynano balamin. Hal ini mengakibatkan perdarahan hebat pada wanita tersebut dan berakhir dengan kematian.
Kasus aborsi di atas termasuk kasus pidana, karena adanya aduan dari ayah korban yang meminta kepada polisi untuk mengusut tuntas peristiwa itu dan menghukum pelaku. Kasus ini mengakibatkan bidan E terjerat pasal 348 KUHP tentang pembunuhan daan melanggar Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 atau pada Undang-undang yang baru yaitu Undang-undang Kesehatan No 36 tahun 2009.
Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 bidan E bisa dijerat dengan Pasal 80 dengan ketentuan dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), sedangkan menurut pembaharuan Undang Undang Republik Indonesia No.36 tahun 2009 dijerat dengan pasal 194 dengan ketentuan dipidana dengan penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).


BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Malpraktik aborsi yang tidak aman dan ilegal masih banyak dilakukan di sekitar kita, bahkan oleh tenaga kesehatan sekalipun. Sebagai contoh dari kasus di atas, diketahui bahwa seorang bidan dengan sengaja telah melakukan praktik aborsi kepada salah satu pasiennya, dimana bidan itu sadar betul kalau tindakan tersebut adalah bukan kewenangannya. Tindakan aborsi mengandung risiko yang cukup tinggi, apabila dilakukan tidak sesuai standar profesi medis. Risiko yang mungkin timbul antara lain, perdarahan, infeksi pada alat reproduksi, rupture uteri, bahkan bisa sampai terjadi kematian. Pasal-pasal yang mengatur tentang tindakan aborsi pun tidak sedikit, dengan berbagai ancaman hukuman, namun hal ini tidak menyurutkan niat para oknum tenaga medis untuk tetap melakukan praktik aborsi yang ilegal.

B.   SARAN
Semua tenaga kesehatan, baik dokter, bidan ataupun yang lainnya harus memahami betul apa-apa yang menjadi kewenangannya dan apa-apa pula yang bukan menjadi kewenangan dari profesinya. Peraturan per Undang-undangan yang telah disusun sedemikian rupa dan diadakan pembaharuan, janganlah hanya dianggap sebagai peraturan tertulis semata, namun harus di patuhi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Frans H. Winarta, Pro-Kontra Abortus dalam UU Kesehatan, www.sinarharapan.co.id
Kapita Seleksi Kedokteran, Edisi 3, halaman 260;




FASE LATEN MEMANJANG


FASE LATEN MEMANJANG

A.    Pendahuluan
Menurut Sarwono Prawirohardjo dalam ilmu kebidanan tahun 2002 pada saat ini angka kematian perinatal di Indonesia masih tinggi yaitu 334/100000 dan 218/1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian tersebut menurut survey kesehatan rumah tangga tahun 2001 yaitu perdarahan 24%, infeksi 11%, partus macet 5% dan sisanya disebabkan oleh penyebab lain. Penyebab utamanya kematian adalah perdarahan, infeksi dan toksemia, sehingga sekitar 90% kematian komplikasi obstetri yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya.
Seperti apa yang telah diuraikan di atas bahwa partus lama/macet menambah tingginya angka kematian ibu pada saat persalinan. Salah satu penyebab partus lama yaitu fase laten memanjang (menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri, 1998). Di mana pada kondisi tersebut terjadi pemanjangan waktu saat pembukaan serviks dari 0 sampai 4 cm, yang mana pada waktu yang normal hanya membutuhkan waktu 8 jam tetapi pada fase laten memanjang ini membutuhkan waktu lebih dari 8 jam. Oleh karena itu, petugas kesehatan harus benar-benar mempunyai penatalaksanaan yang baik untuk mengatasi hal tersebut. Sehingga komplikasi dalam proses persalinan dapat di tekan semaksimal mungkin.
Menurut Rustam Moctar untuk mengetahui hal tersebut yang paling penting dilakuan adalah :
1.       Pertolongan persalinan yang aman, sehingga memastikan bahwa semua penolong persalinan mempunyai pengetahuan, keterampilan dan alat untuk memberikan perawatan nifas pada ibu dan bayi
2.       Pelayanan obstetri yang esensial yang memastikan bahwa pelayanan obstetri untuk resiko tinggi dan komplikasi bagi ibu yang membutuhkan

LANDASAN TEORI
FASE LATEN MEMANJANG


A.    Definisi Fase Laten Memanjang
Menurut Sarono Prawirohardjo dalam buku pelayanan maternal dan neonatal fase laten memanjang adalah suatu keadaan pada kala I dimana pembukaan serviks sampai 4 cm dan berlangsung lebih dari 8 jam.

B.     Etiologi
Menurut Rustam Mochtar (Sinopsis Obstetri) pada dasarnya fase laten memanjang dapat disebabkan oleh :
1.      His tidak efisien (adekuat)
2.      Tali pusat pendek
3.      Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)
4.      Kesalahan petugas kesehatan memastikan bahwa pasien sudah masuk dalam persalinan (inpartu) atau belum
Faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama lain.

C.    Penilaian Klinis
Menurut Sarwono Prawirohardjo menentukan keadaan janin :
1.      Periksa DJJ selama atau segera setelah His. Hitung frekuensinya sekurang-kurangnya 1 x dalam 30 menit selama fase aktif dan tiap 5 menit selama fase laten kala II.
2.      Jika ketuban sudah pecah, air ketuban kehijau-hijauan atau bercampur darah, pikiran kemungkinan gawat janin
3.      Jika tidak ada ketuban yang mengalir setelah selaput ketuban pecah, pertimbangkan adanya indikasi penurunan jumlah air ketuban yang mungkin juga menyebabkan gawat janin. Perbaiki keadaan umum dengan memberikan dukungan psikologis. Berikan cairan baik secara oral atau parenteral dan upayakan BAK.
4.      Bila penderita merasakan nyeri yang sangat berat berikan analgetik

D.    Diagnosis
Menurut Suprijadi dalam buku asuhan intrapartum pada fase laten memanjang ini memungkinkan terjadinya partus lama. Maka dari itu bidan harus bisa mengidentifikasi keadaan ini dengan baik.

Diagnosa partus lama ialah :
Tanda dan Gejala
Diagnosa
1.   Serviks tidak membuka
Tidak didapatkan his/his tidak teratur
Belum inpartu
2.   Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur
Fase laten memanjang
3.   Pembukaan serviks melewati kanan garis waspada partograf
a.    Frekuensi his kurang dari 3 x his per 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik
b.    Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tidak maju, sedangkan his baik
c.    Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tak maju dengan caput, terdapat moulase hebat, oedema serviks, tanda ruptura uteri imins, gawat janin
Fase aktif memanjang

Inersia uteri

CPD


Obstruksi kepala
4.   Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi tidak ada kemajuan penurunan
Kala II lama


Kekeliruan melakukan diagnosa persalinan palsu menjadi fase laten menyebabkan pemberian induksi yang tidak perlu yang biasanya sering gagal. Hal ini menyebabkan tindakan operasi SC yang kurang perlu dan sering menyebabkan amnionitis. Oleh sebab itu maka petugas kesehatan atau bidan harus benar-benar tahu atau paham tentang perbedaan persalinan sesungguhnya dan persalinan palsu yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Persalinan sesungguhnya
a.       Serviks menipis dan membuka
b.      Rasa nyeri dengan internal teratur
c.       Internal antara rasa nyeri yang secara perlahan semakin pendek
d.      Waktu dan kekuatan kontraksi bertambah
e.       Rasa nyeri berada dibagian perut bagian bawah dan menjalar ke belakang
f.       Dengan berjalan menambah intensitas
g.      Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan intensitas rasa nyeri
h.      Lendir darah sering tampak
i.        Kepala janin terfiksasi di PAP diantara kontraksi
j.        Pemberian obat penenang tidak menghentikan proses persalinan sesungguhnya
k.      Ada penurunan kepala bayi

2.      Persalinan Semu
a.       Tidak ada perubahan serviks
b.      Rasa nyeri tidak teratur
c.       Tidak ada perubahan internal antara nyeri yang satu dan yang lain
d.      Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan kontraksi
e.       Kebanyakan rasa nyeri dibagian depan saja
f.       Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan berjalan
g.      Tidak ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi uterus dengan intensitas rasa nyeri
h.      Tidak ada lendir darah
i.        Tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin
j.        Kepala belum masuk PAP walaupun ada kontraksi
k.      Pemberian obat yang efisien menghentikan rasa nyeri pada persalinan

E.     Penatalaksanaan
1.      Penanganan secara umum (menurut Sarwono Prawirohardjo)
a.       Nilai secara cepat keadaan umum wanita hamil tersebut termasuk tanda-tanda vital dan tingkat hidrasinya. Apakah ia kesakitan dan gelisah, jika ya pertimbangkan pemberian analgetik.
b.      Tentukan apakah pasien benar-benar inpartu
c.       Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah O2 ke plasenta, maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan dan mengedan dengan tidak menahan napas terlalu lama
d.      Perhatikan DJJ

2.      Penanganan secara khusus
Apabila ibu berada dalam fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda kemajuan, lakukan pemeriksaan dengan jalan penilaian ulang serviks :
a.       Bila tidak ada perubahan penipisan dan pembukaan serviks serta tak didapatkan tanda gawat janin, kaji ulang diagnosisnya kemungkinan ibu belum dalam keadaan inpartu
b.      Bila ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostoglandin. Lakukan drip oksitosin dengan 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl mulai dengan 8 tetes per menit, setiap 30 menit ditambah 4 tetes sampai His adekuat (maksimum 40 tetes/menit) atau diberikan preparat prostaglandin. Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam. Bila ibu tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin lakukan seksio sesarea.
c.       Pada daerah yang prevelensi HIV tinggi, dianjurkan membiarkan ketuban tetap utuh, selama pemberian oksitosin untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penularan HIV
d.      Bila didapatkan tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau) lakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl mulai dengan 8 tetes permenit setiap 15 menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (maksimum 40 tetes/menit atau diberikan preparat prostaglandin, serta berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan yaitu amplisilin 29 gr IV. Sebagai dosis awal dan 1 gr IV setiap 6 jam ditambah dengan gestamisin setiap 24 jam.
e.       Jika terjadi persalinan pervaginam stop antibiotika pasca persalinan
f.       Jika dilakukan seksiosesarea, lanjutkan antibiotika ditambah metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam.

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN DENGAN FASE LATEN MEMANJANG TERHADAP NY "H"



I.            PENGUMPULAN DATA DASAR
Tanggal :  2 Februari 2007                                  Pukul   :  09.30 WIB

A.    Pengkajian
1.      Identitas Klien
Nama ibu        :  Ny. Heni                  Nama Suami :  Tn. Angga Wijaya  
Umur              :  23 Tahun                  Umur              :  26 Tahun
Pendidikan     :  SMA                        Pendidikan     :  D3
Pekerjaan        :  IRT                          Pekerjaan       :  PNS
Agama            :  Islam                        Agama           :  Islam
Suku/Bangsa  :  Jawa/Indonesia        Suku/Bangsa :  Palembang/Indonesia
Alamat           :  Seputih Banyak       Alamat           :  Seputih Banyak
                          Lam-Teng                                          Lam-Teng

2.      Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil anak pertama. Usia kehamilan cukup bulan mengeluh perutnya mules dan menjalar sampai ke pinggang sejak pukul 04.00 Wib.

3.      Tanda-tanda Persalinan
Ibu datang pukul 09.30 Wib. His (+) frekuensi 2 x setiap 10 menit lamanya 20 detik.

4.      Pengeluaran Pervaginam
Ibu mengatakan sudah mengeluarkan lendir bercampur darah, tidak ada pengeluaran ketuban.
5.      Masalah-masalah Khusus
His lemah, sehingga kemungkinan terjadi partus lama.

6.      Riwayat Kehamilan Sekarang
HPHT     :  01 Mei 2006
TP           :  08 Februari 2007
Haid bulan sebelumnya teratur, lamanya 6 – 7 hari, siklus 28 hari
ANC dilakukan secara teratur, setiap 1 bulan 1 x di bidan.

7.      Riwayat Imunisasi
Selama hamil ibu imunisasi 2 x, pertama usia kehamilan 5 bulan, kedua usia kehamilan 6 bulan dilakukan di Bidan "M".

8.      Riwayat Kehamilan yang Lalu
Ibu hamil anak pertama

9.      Pergerakan Janin dalam 24 Jam Terakhir
Ibu merasakan sebelum mules perutnya dirasakan gerakan janin sedikit berkurang.

10.  Makan dan Minum Terakhir
Sebelum mules timbul, ibu makan dan minum biasa, tapi setelah mules timbul terasa malas makan dan lebih banyak minum.

11.  Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 1 hari 1 x dan BAB terakhir pukul : 04.00 Wib
Ibu mengatakan BAK 6 – 7 x/hari dan terakhir pukul : 09.00 Wib

12.  Pola Istirahat
Setelah rasa mulas pada perutnya timbul yaitu pukul 04.00 Wib sampai pengkajian dilakukan ibu tidur 1 jam sebelumnya tiap harinya + 6 – 7 jam per hari.
13.  Psikologis
Ibu mengatakan cemas menghadapi persalinan ini.

B.     Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan umum ibu :  baik
Kesadaran                :  composmentis
2.      Tanda-tanda vital :
TD        :  110/80 mmHg                   RR       :  24 x/menit
Pols      :  80 x/menit                         Temp   :  370C
3.      TB/BB  :  157 cm / 55 kg
4.      Pemeriksaan fisik
a.       Rambut            :  Tidak ada ketombe, tidak mudah rontok dan tidak mudah dicabut, warna hitam dan agak kotor
b.      Mata                :  Bentuk simetris, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik dan tidak ada oedema
c.       Hidung            :  Bersih, tidak ada polip, penciuman baik
d.      Gigi & mulut   :  Bersih, tidak ada ada caries dan tidak ada stomatitis
e.       Telinga             :  Bentuk simetris, bersih dan fungsi pendengaran baik
f.       Leher               :  Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid dan vena jugularis
g.      Dada                :  Bentuk simetris, tidak ada benjolan abnormal, puting menonjol, terdapat hiperpigmentasi pada aerola mamae dan kolostrum sudah keluar
h.      Abdomen        :  Tidak ada bekas operasi
1)   Leopold I    :  TFU pertengahan pusat dan Px, pada fundus teraba bagian yang lunak, tidak melenting dan kurang bundar berarti bokong. TFU seara MC donald :     36 cm
                                
                                 TBJ =  (TFU – 11) x 155
                                          =  (36 – 11) x 155
                                          =  3875 gram
2)   Leopold II  :  Pada perut bagian sebelah kiri teraba ada tahanan yang lebar, datar dan lurus berarti punggung, bagian kanan teraba bagian kecil-kecil berarti ekstermitas.
3)   Leopold III   :      Bagian bawah teraba bulat, keras dan melenting berarti kepala 
4)   Leopold IV : Bagian terendah sudah masuk PAP
5)   Auskultasi   :  Bagian terendah sudah masuk PAP
6)   Keadaan     :  Vesika urinaria kosong
i.        Ekstermitas
Atas                 :  tidak ada oedema, gerakan normal, tidak ada luka, bentuk simetris
Bawah             :  tidak ada oedema, tidak ada varises, reflek patela (+) fungsi ekstermitas baik
j.        Genetalia
Inspeksi           :  pada vulva dan vagina tidak ada varises maupun oedema, tidak ada luka dan cidera juga peradangan, pada perenium tidak ada bekas luka
Pengeluaran pervaginam :  lendir bercampur darah
k.      Rectum            :  ibu mengatakan hari ini sudah BAB, rektum kosong, perineum elastis.

5.      Pemeriksaan Dalam Pukul :  09.30 WIB
Vulva/pengeluaran pervaginam :  blood slym
Perineum          :  kaku, tidak ada bekas luka
Vulva               :  tidak ada oedema dan varises
Periksa rugea    :  tebal, tiak ada benjolan
Porsio               :  tebal, lunak, pembukaan 1 cm
Serviks             :  tebal
Ketuban           :  belum pecah/utuh (+)
Presentasi         :  kepala, UUK kiri depan
Penurunan        :  hodge I

Pengawasan Kala I
Tgl
Waktu
Pembukaan serviks
Kondisi
Kondisi janin
TD
Pols
RR
Temp
Obat cair yang diberikan
Kontraksi uterus/his
DJJ
Penurunan kepala
Ketuban/ penyusupan












02-02-2007
9.30
2 cm
110/80
80
24
370C
-
Kekuatan lemah, lama <20 detik, 2x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)
4/5
+/0

10.00


81



Kekuatan lemah, lama  < 20 detik 2x dalam 10 mnt
145 x/mnt (+)



10.30


80



Kekuatan lemah, lama  < 20 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
150 x/mnt (+)



11.00


79



Kekuatan lemah, lama  < 20 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
152 x/mnt (+)



11.30


80
26
37,80C

Kekuatan lemah, lama  < 20 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)



12.00


75



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
135 x/mnt (+)



12.30


80



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
144 x/mnt (+)



13.00


76



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)


02-02-2007
13.30
3 cm

80
2
37,30C

Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
134 x/mnt (+)
4/5
+/0

14.00


76



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
130 x/mnt (+)



14.30


75



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
135 x/mnt (+)



15.00


78



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
132 x/mnt (+)



15.30


75

37,80C

Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)



16.00


73



Kekuatan sedang, lama  20-40 detik frekuensi 2x dalam 10 mnt
135  x/mnt (+)





16.30






Kekuatan kuat lama > 40 dtk frekuensi 2x dalam 10 mnt
140 x/mnt (+)



17.00






Kekuatan kuat lama > 40 dtk frekuensi 2x dalam 10 mnt
145 x/mnt (+)


02-02-2007
17.30
4 cm

73

370C

Kekuatan kuat lama > 40 dtk frekuensi 2x dalam 10 mnt
135 x/mnt (+)
3/5
+/0


II.         INTERPRESTASI DATA DASAR
1.      Diagnosa
Ibu G1P0A0 hamil 39 minggu, janin tunggal, hidup, PUKI, memanjang intrauterin, presentasi kepala, inpartu kala I fase laten.
Dasar :
a.       Ibu mengatakan hamil anak pertama
b.      HPHT     :  1 Mei 2006  
TP           : 8 Februari 207
c.       Pada pemeriksaan leopold di dapat hasil
Leopold I    :  TFU pertengahan pusat-PX, fundus teraba bokong
Leopold II   :  bagian kiri teraba bagian keras, panjang diri bagian kanan ibu teraba bagian kecil (ekstermitas)
Leopold III :  bagian terendah teraba kepala
Leopold IV :  kepala sudah masuk PAP
DJJ              :  140 x/menit

d.      Hasil pemeriksaan dalam pukul : 09.30 Wib
Vulva          :  pengeluaran pervagina berupa blood slym, tidak ada oedema, tidak ada varises dan bekas luka, tidak ada hemoroid.
Rugea          :  tebal, tidak ada benjolan
Porsio          :  lembut dan tipis, pembukaan 2 cm
Serviks        :  tebal
Ketuban      :  belum pecah/utuh (+)
Presentasi    :  UUK kiri depan
Penurunan   :  hodge II

2.      Masalah
Fase laten memanjang
Dasar : 
Ibu melaui fase laten lebih dari 8 jam.

3.      Kebutuhan
a.       Mengatasi kebutuhan nutrisi ibu untuk mengantisipasi kelelahan
b.      Memberikan support kepada ibu
c.       Pertolongan persalinan yang aman dan nyaman

III.      IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH
Potensial terjadinya partus lama akibat fase laten yang memanjang
Dasar :
-          Ibu inpartu kala II
-          Fase laten berlangsung lebih dari 8 jam
-          Ibu hamil anak 1


IV.      IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN DAN KOLABORASI
Kolaborasi dengan dokter bila ada komplikasi pada kala I proses persalinan.

V.         RENCANA MANAJEMEN
1.      a.  Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini
b.    Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis pada saat proses persalinan
c.    Observasi kala I menggunakan partograf dan kolaborasi bila ada komplikasi
d.   Siapkan ruangan bersalin, alat, kebutuhan fisik dan psikologis ibu serta persiapkan bidan dengan memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik
2.      Penyuluhan cara mengejan yang efektif
a.       Jelaskan manfaat mengejan yang efektif
b.      Ajarkan ibu cara mengejan yang efektif
c.       Observasi cara mengejan ibu
3.      Penyuluhan mengatasi rasa nyeri
a.       Jelaskan penyebab nyeri
b.      Ajarkan cara mengatasi nyeri
4.      Pemenuhan nutrisi (asuhan sayang ibu)
a.       Beri ibu makan jika lapar
b.      Beri ibu minum jika haus
c.       Beri ibu minuman manis sebagai penambah tenaga
d.      Suruh ibu istirahat jika lelah

VI.      IMPLEMENTASI LANGSUNG
1.       a. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini ibu telah memasuki kala I persalinan dengan fase laten memanjang
b.      Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis
c.       Melakukan observasi kala I menggunakan partograf, mengenai DJJ, penurunan kepala, pembukaan serviks, frekuensi his dan tanda vital
d.      Persiapan persalinan :
1)      Ruang bersalin
2)      Menyiapkan alat persalinan
Partus set, heating set, air DTT dan klorin, pakaian bayi, handuk, tempat sampah kering dan basah.
3)      Menyiapkan alat resusitasi
4)      Menyiapkan pakaian bayi
5)      Memantau kemajuan persalinan dengan partograf
6)      PD setiap 4 jam 1 x atau indikasi inpartu
7)      Menyiapkan alat penanganan syok dan perdarahan
8)      Memenuhi kebutuhan fisik ibu, makan, minum, BAK dan BAB
9)      Memenuhi kebutuhan psikologis ibu
Memberikan dukungan persalinan
10)  Menyiapkan alat (pelidung diri) untuk bidan: mitela, masker barascort, kacamata, hand scoen, spatu booth.
11)  Melakukan penyuluhan mengenai cara mengejan yang efektif
a.       Menjelaskan manfaat mengejan efektif pada ibu, apabila ibu mengejan dengan baik dapat membantu mempercepat penurunan kepala dan pengeluaran bayi.
b.      Mengajarkan cara mengejan yang efektif, mengejan dilakukan pada saat his dan telah memasuki kala II persalinan, sehingga diafragma berfungsi lebih baik, badan ibu dilengkungkan dengan dagu di dada atau mata melihat perut, kaki ditarik kearah badan sehingga lengkungan badan dapat membantu mendorong janin.
12)  Mengobservasi cara mengejan ibu

2.       Melakukan penyuluhan cara mengatasi rasa nyeri yang disebabkan oleh fase laten yang memanjang
a.       Menjelaskan pada ibu penyebab nyeri. Nyeri disebabkan karena adanya kontraksi uterus yang akan membantu mendorong janin untuk turun
b.      Mengajarkan cara mengatasi nyeri, ibu disuruh untuk berjalan-jalan bila masih bisa, kemudian menganjurkan ibu untuk tidur dengan posisi miring ke kiri, agar pembukaan serviks lebih cepat.
3.       Ibu bersedia untuk miring ke kiri
4.       Kemajuan persalinan baik
5.       Hasil pengawasan kala I dengan partograf
DJJ    :  140 x/menit
Penurunan kepala :  hodge II
TTV   :      TD      :  110/80 mmHg                  Nadi     :  80 x/menit
                 RR      :  22 x/menit                        Suhu    :  37 0C
6.       Kandung kemih   : kosong
7.       Frekuensi His       : 2 x dalam 10 menit, lemah, lamanya < 20 detik.

Kala II Pukul 17.30 Wib
S     :   Ibu mengatakan perutnya mulas-mulas seperti ingin BAB, dan keluar air dari kemaluannya.
O    :   Dilakukan PD   pukul : 17.30 Wib dengan hasil
1.      Vulva                :  tidak ada oedema dan varises, pengeluaran berupa blood slym
2.      Introitus vagina   :  rugea masih teraba, tidak ada bisul/benjolan
3.      Partio                :  lembut, pembukaan 4 cm
4.      Serviks              :  tebal
5.      Ketuban            :  Utuh/belum pecah (+)
6.      Presentasi         :  UUK kiri depan/kepala
7.      Penurunan        :  hodge II
8.      DJJ                   :  140 x/menit
9.      Keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis
TTV   :   TD      :  130/70 mmHg                  Nadi     :  81 x/menit
                 RR      :  21 x/menit                        Suhu    :  37 0C
10.  Tanda persalinan semakin tampak yaitu perineum menonjol, vulva membuka dan ada tekanan pada anus.

A    :   1. Diagnosa
a.      Ibu P1A0 partu kala II, janin tunggal, hidup intrauteri, plasenta kepala
Dasar :
Kontraksi uterus :  2 x dalam 10 menit lama 20-40 detik
Pembukaan lengkap, portio tidak teraba, ketuban (-), perineum menonjol dan vulva membuka, DJJ : 140 x/menit
b.      Potensial terjadi perpanjangan kala I fase laten
Dasar :
Ibu hamil anak pertama
Pembukaan 10 cm, perineum kaku, ketuban (-)
Fase laten berlangsung lebih dari 8 jam.

           2.  Masalah
Fase laten memanjang dan ibu cemas menghadapi, persalinannya
Dasar : 
Ibu memasuki kala II persalinan
Ibu hamil anak pertama

           3.  Kebutuhan
Penyuluhan cara relaksasi
Pertolongan persalinan yang bersih, aman dan nyaman


P     :   1.  Jelaskan kondisi ibu saat ini sudah masuk fase persalinan
           2.  Lakukan pengawasan kala II menggunakan partograf, pantau tenaga ibu kontraksi uterus, pantau penurunan, presentasi kepala janin dan DJJ setelah kontraksi dan vital sign.
3.    Anjurkan dan ajarkan pada ibu mengejan pada saat his ada dan relaksasi pada saat his menghilang
4.    Observasi cara mengejan ibu
5.    Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan pada saat ibu mengejan
6.    Lakukan pertolongan persalinan, tolong kepala, bahu, badan, kemudian bersihkan jalan napas
7.    Periksa janin tunggal atau kembar
8.    Observasi perdarahan pervaginam
9.    Bayi lahir pukul : 22. 00 Wib
BB                  :  3.000 kg
Jenis kelamin :  laki-laki
PB                   :  49 cm
Anus               :  (+)
APGAR score    :    7
Bayi tidak menangis spontan
a.       Lakukan asuhan BBL : letakkan bayi diperut ibu, keringkan bayi, potong tali pusat, ganti dengan kain bersih
b.      Segera lakukan resusitasi untuk membebaskan jalan napas
c.       Jika berhasil dan bayi menangis spontan hangatkan kembali tubuh bayi dan berikan pada ibu untuk disusukan.

Kala III Pukul 22.15 WIB
S     :   Ibu mengatakan perutnya mulas
O    :   Keadaan umum   :  baik                                  
           Kesadaran           :  composmentis
TTV   :       TD     :  130/70 mmHg                   Nadi        :  21 x/menit
                    RR     :  81 x/menit                         Suhu       :  37 0C
Janin tunggal
TFU, 2 jari di bawah pusat
Abdomen : Kontraksi uterus baik, uterus teraba bulat dan keras, seperti batu, terdapat semburan darah tiba-tiba dan tali pusat memanjang
A    :   1.  Diagnosa 
Ibu P1Ao
Dasar   :   uterus teraba bulat dan keras, TFU 2 jari di bawah pusat, plasenta belum lahir.

           2.  Masalah
Nyeri perut bagian bawah
Dasar : 
Ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah
Plasenta belum lahir
Kontrkasi uterus baik
TFU 2 jari di bawah pusat

           3.  Kebutuhan
Manajemen aktif kala III
Pemenuhan nutrisi dan cairan


P     :   1.  Jelaskan kondisi ibu saat ini bahwa ibu sedang berada pada kala III persalinan
           2.  Lakukan pemeriksaan TTV
TD    :  12/70 mmHg                Pols     :  80 x/menit
RR    :  23 x/menit                    Suhu    :  37 0C
3.    Anjurkan dan ajarkan pada ibu mengejan pada saat his ada dan relaksasi pada saat his menghilang
a.       Pemberian oxitosin 10 IU
b.      Lakukan peregangan tali pusat terkendali
c.       Masase fundus
4.    Lahirkan plasenta dengan hati-hati
a.       Kotiledon dan selaput utuh
b.      Panjang tali pusat : 20 cm
c.       Lebar plasenta       : 13 cm
d.      Berat plasenta       : 500 gr
e.       Tebal plasenta       : 2 cm
5.    Setelah 15 detik lakukan masase fundus secara sirkuler dan ajarkan pada ibu untuk melakukannya sendiri
6.    Lakukan vulva hygiene pada ibu
7.    Observasi perdarahan dan luka

Kala IV Pukul :  23. 00 WIB
S     :   Ibu mengatakan masih terasa mules
O    :   1.  Pemeriksaan tanda vital
TD    :  110/70 mmHg              Nadi    :  80 x/menit
RR    :  22 x/menit                    Suhu    :  37 0C
2.    Keadaan kandung kemih    : kosong
3.    TFU                                     : 3 jari dibawah pusat
4.    Kontraksi uterus baik
5.    Perdarahan pervaginam + 150 cc
6.    Pengeluaran lochea rubra

A    :   1.          Diagnosa
a.       Ibu P1Ao partus spontan pervaginam partus kala IV
Dasar :
Ibu partus spontan pervaginam pukul : 22.00 Wib
Plasenta lahir lengkap pukul : 22.30 Wib
Pengeluaran lochea rubra
TFU : 3 jari dibawah pusat
b.      Potensi terjadi perdarahan pervaginam
Dasar :
Plasenta lahir pukul : 22.30 Wib
Perdarahan pervaginam berupa lochea rubra

1.    Masalah
Gangguan rasa nyaman
Dasar :
Ibu mengatakan masih mules dan sedikit nyeri pada daerah genetalia

2.    Kebutuhan
Personal hygiene ibu
Memberi rasa nyaman ibu
Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan

P     :   1. Jelaskan kondisi ibu saat ini
           2.  Periksa TTV, TFU, kandung kemih dan perdarahan setiap 15 menit dalam 1 jam pertama dan 30 menit dalam 1 jam kedua
3.    Penyuluhan personal hygiene
Beritahu ibu untuk membersihkan daerah kemaluannya setelah BAB dan BAK dengan arah kebelakang, mandi 2 x/hari dan ganti pakaian
4.    Pemenuhan mobilisasi ibu
Miring ke kanan / ke kiri
Ibu boleh berjalan sesudah 6 jam
5.    Pemenuhan nutrisi ibu
Makan yang bergizi karena ibu masih dalam masa pemulihan minum 6 – 8 gelas/hari
6.    Pemenuhan istirahat
Tidur 6 – 7 jam/hari
7.    Observasi pengeluaran vagina (lochea)

DAFTAR PUSATAKA



Mochtar, Rustam :  Sinopsis Obstetri Jilid I. Edisi 2. Jakarta. EGC, 1998

Prawirohardjo, Sarwono : Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta, Yayasan Bina Pusata, 2002.